MAKALAH DIARE

Posted in Uncategorized on f19,13 by B1L1

BAB I

 PENDAHULUAN

 

I.I Latar Belakang

Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kali atau lebih dalam 1 hari). Penyakit diare sampai kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih berfluktuasi, dan kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan dan kader kesehatan mengalami penurunan namun penyakit diare ini masih sering menimbulkan KLB yang cukup banyak bahkan menimbulkan kematian. Di Indonesia, hasil survei yang dilakukan oleh program, diperoleh angka kesakitan Diare untuk tahun 2000 sebesar 301 per 1.000 penduduk, angka ini meningkat bila dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 1996 sebesar 280 per 1.000 penduduk. Sedangkan berdasarkan laporan kabupaten/ kota pada tahun 2008 diperoleh angka kesakitan diare sebesar 27,97 per 1000 penduduk. Sedangkan angka kesakitan diare pada tahun 2009 sebesar 27,25%. Jauh menurun jika dibandingkan 12 tahun sebelumnya. Klik judul untuk membaca selanjutnya

Kabupaten/kota dengan angka kesakitan diare tertinggi (36,87-55,13 per 1000 penduduk) yaitu Kab. Takalar, Enrekang, Tanatoraja, Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur (merah). Sedangkan terendah (1,16-19,40 per 1000 penduduk) yaitu Kab. Selayar, Bulukumba, Jeneponto, Sinjai, Maros, Bone, Sidrap, dan Parepare (hijau).

Pada tahun 2002 jumlah penderita pada KLB diare tersebar pada 2 kabupaten/kota dengan 4 kecamatan dan 4 desa dengan jumlah penderita sebanyak 54 penderita tanpa kematian. Sedangkan tahun 2003, jumlah penderita pada KLB diare tersebar pada 13 kabupaten/kota dengan 21 kecamatan dan 27 desa dengan jumlah penderita sebanyak 1.156 penderita dengan 45 kematian. Dan untuk jumlah kejadian, penderita dan kematian akibat diare cenderung menurun pada tahun 2004. Adapun jumlah kejadian luar biasa diare periode Januari–Desember 2004 sebanyak 21 kejadian, dengan jumlah penderita sebanyak 1.145 orang dan jumlah kematian sebanyak 25 penderita (CFR=2,18%), tersebar pada 10 kabupaten, 15 kecamatan dan 24 desa. Untuk tahun 2005, jumlah kejadian luar biasa diare periode Januari – Desember sebanyak 8 kejadian, 8 kab./kota dengan jumlah penderita sebanyak 443 orang, dengan kematian sebanyak 9 orang (CFR=2,03%). Sementara di tahun 2006 tercatat jumlah KLB diare sebanyak 14 kejadian, dengan jumlah penderita 465 orang dan CFR sebesar 2,15%. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi atau berhubungan dengan terjadinya penyakit diare adalah belum meningkatnya kualitas kebiasaan hidup bersih dan sehat masyarakat pada umumnya dan khususnya hygiene perorangan, dan penggunaan sarana SAMIJAGA yang memenuhi syarat kesehatan belum membudaya pada masyarakat di pedesaan. Sementara itu, jumlah kasus/penderita diare yang dapat dihimpun melalui laporan dari 23 kabupaten/kota selama tahun 2003 adalah sebesar 172.742 penderita (IR=2,070/00), meninggal 73 orang (CFR=0,04%). Kabupaten/Kota yang terlihat menunjukkan cakupan penemuan penderita tertinggi dalam tahun 2003 ini adalah Kota Palopo 146,74%, Kota Makassar 115,04%, Kab. Soppeng 112,63% dan Kab. Enrekang 111,67%. Untuk tahun 2004, kasus diare yang dilaporkan sebanyak 177.409 kasus (cakupan 68,70%) dengan kematian sebanyak 66 orang (CFR=0,04%). Jumlah kasus tertinggi pada kelompok umur > 5 tahun (91.379 kasus) kematian 29 orang dan kelompok umur 1 – 4 tahun (57.087 kasus) kematian 17 orang sedang jumlah kasus terendah pada kelompok umur < 1 tahun (28.946 kasus) kematian 20 orang. Kab./kota yang terlihat menunjukkan cakupan penemuan penderita tertinggi pada tahun 2004 masih tetap Kota Palopo (152,42%) dan Kota Makassar (128,62%). Sedangkan untuk kasus diare selama tahun 2005 tercatat sebanyak 188.168 kasus (72,87%) dengan kematian sebanyak 57 orang (CFR=0,03%). Jumlah kasus tertinggi pada kelompok umur > 5 tahun (100.347 kasus) dengan kematian 19 orang dan kelompok umur 1-4 tahun (60.794 kasus) kematian 13 orang sedang jumlah kasus terendah pada kelompok umur < 1 tahun (27.029 kasus) dengan kematian 25 orang. Situasi pemberantasan penyakit diare pada tahun 2006 tercatat sebanyak 173.359 kasus dengan cakupan tertinggi di Kab. Enrekang (179,46%), Kota Palopo (154,50%), Kota Makassar (142,86%) dan Kab. Soppeng (109,10%). Bila dikelompokkan ke dalam kelompok umur maka jumlah kasus yang tertinggi berada pada kelompok umur > 5 tahun (92.241 orang) dengan kematian terbanyak pada kelompok umur 1-4 tahun sebanyak 17 orang, pada tahun 2007 penyakit diare tercatat mengalami penurunan yaitu sebanyak 209.435 kasus dengan jumlah kasus tertinggi  di Kab. Gowa (12.089 kasus). Bila di kelompokkan ke dalam kelompok umur maka jumlah kasus yang tertinggi berada pada kelompok umur < 5 tahun sebanyak 93.560 kasus. Berdasarkan profil kesehatan kabupaten/ kota pada tahun 2008, kasus diare kembali mengalami penurunan yaitu 209.153 kasus, tertinggi masih di Kota Makassar (45.929 kasus) dan terendah di Kab.Enrekang (400 kasus).Sedangkan pada tahun 2009 sebanyak 226,961 kasus, tertinngi di Kota Makassar (45.014 kasus) dan terendah di Kab. Selayar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan data hasil penulisan yang diungkapkan diatas yang mengambarkan sebagian besar dibeberapa daerah angka penyakit diare meningkat setiap tahun nya,maka penulis ingin mengobservasi lebih lanjut tantang faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit diare terhadap masyarakat desa x diwilayah kerja puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya.

 

I.3 Tujuan Penulisan

I.3.I.  Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit Diare terhadap Masyarakat Desa x diwilayah kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan  Kabupaten Nagan Raya.

 

I.3.2   Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dalam penulisan ini antara lain:

1                    Untuk mengetahui factor kebiasaan prilaku yang mempengaruhi penyakit diare terhadap masyarakat desa di wilayah kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya tahun 2010.

2                    Untuk mengetahui factor sanitasi lingkungan yang mempengaruhi penyakit diare terhadap masyarakat desa x diwilayah kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya tahun 2010.

3                    Untuk mengetahui factor status social ekonomi yang mempengaruhi penyakit diare terhadap masyarakat desa x diwilayah kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabuptaten Nagan Raya tahun 2010.

4                    Untuk mengetahui factor status gizi yang mempengaruhi penyakit diare terhadap masyarakat desa x diwilayah kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupataen Nagan Raya tahun 2010.

I.4   Manfaat Penulisan

 

  1. Bagi pemerintah , pengambil kebijakan dan dinas kesehatan nagan raya yaitu dapat menjadi bahan masukan materi dalam membuat kebijakan atau dalam hal menentukan kebijakan yang berhubungan dengan penaggulangan penyakit diare.
  2. Bagi Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk mengoptimalisasikan penanggulangan penyakit diare .
  3. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar (FKM – UTU),dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan bacaan serta menambah koleksi bahan perpustakaan yang telah ada.
  4. Bagi penulis, memberi pengalaman dan kesempatan untuk melaksanakan penulisan dengan metode yang benar, penulis mampu berfikir lebih baik dalam memahami masalah serta melakukan analisis secara ilmiah dan sistematis.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.I Pengertian Diare

Diare adalah Buang Air Besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200ml/24jam. Definisi lain memakai criteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali/hari. Buang air besar encer tersebut dapat disertai lender dan darah.

 

Menurut WHO (1990) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih darui tiga kali sehari. Diare akut adalah diare yang yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam atau hari.

 

Orang yang mengalami diare akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan  dehidrasi tubuh. Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khus

usnya pada anak dan orang tua.

 

Tanda-tanda orang dehidrasi antara lain:

  1. Penderita sangat kehausan
  2. Mulut dan lidah kering,mata cekung
  3. Waktu kulit dipijit, lipatan kulit perlahan – lahan akan kembali seperti semula.
  4. Denyut nadi sangat cepat pada seorang anak yang kurang dari 18 bulan , terlihat adanya noktah lembut pada puncak kepala yang cekung ke bawah(yakni bagian ubun-ubun )

 

2.2 Jenis Jenis Diare

1.Diare Akut

Adalah diare yang disebabkan oleh virus rota virus yang ditandai buang air besar lembek/cair bahkan berupa air saja frekuensi 3x atau lebih dalam sehari berlangsung dari 14 hari.

Patogenesis diare akut yaitu masuk nya jasad renik yang masih hidup kedalam usus halus setelah melewati rintangan asam lambung.jasad renik itu berkembang biak didalam usus halus

.kemudian jasad renik mengeluarkan toksik. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

 

2.Diare Bermasalah

Adalah diare yang disebabkan oleh infeksi virus , bakteri, parasit, intoleransi laktosa, alergi protein, susu sapi,penularan secara fecal-oral kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga. Diare ini diawali dengan cair kemudian pada hari berikutnya muncul darah eengan maupun tampa lendi,sakit perut yang di ikuti muncul tenasmus panas disertai hilang nafsu makan dan badan terasa lemah.

 

3.Diare Persisten

Adalah diare akut yang menetap, dimana titik sentral patogenesis diare tersebut adalah kerusakan mukosa usus.diare persisten ini merupakan istilah yang dipakai di lur negri yang menyatakan diare yang berlangsung 15-30 hari dan berlangsung terus menerus.

Penyebab diare ini sama dengan diare akut. Sebagai akibat diare akut maupun diare bermasalah akan terjadi kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa(asidosis,metabolic,hipokalemi,dan sebagainya),gangguan gizi akibat kelaparan

(masukan makanan kurang,pengeluaranbertambah),hipoglikemia,gangguan sirkulasi darah.

 

2.3 Etiologi diare

1.infeksi bakteri

Beberapa jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan menyebabkan diare seperti campylobacter, salmonella shigella dan Escherichia coli.

 

 

 

2. Infeksi Virus

Virus yang menyebabkan diare yaitu rota virus,Norwalk,cytomegalovirus, virus herpes simplex dan virus hepatitis.

 

3. Intoleransi Makanan

factor makanan misalnya makanan basi, beracun,atau alergi terhadap makanan.penularan melalui kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung,seperti:

  • makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi,baik yang sudah dicemari oleh serangga atau terkontaminasi oleh tangan yang kotor.
  • Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar.
  • Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar.

 

4. Parasit

Masuk dalam tubuh melalui makanan minuman yang kotor dan menetap dalam system pencernaan seperti giardia lamblia, entamoeba histolytica dan cryptosporidium.

5. Reaksi Obat

Seperti antibiotic, obat-obatan, tekanan darah dan antasida mengandung magnesium.

 

 

6. Penyakit Inflamasi

Penyakit inflamasi usus atau penyakit abdominalis gangguan fungsi usus seperti sindroma iritasi usus  dimana usus tidak dapat bekerja secara normal.

 

2.4 Patofisiologi Diare

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:`

a)      Gangguan Osmotic

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

b)     Gangguan Sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinnding usus akan terjadi peningkatan sekresi   air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus

 

c)      Gangguan Motalitas Usus

hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurang nya kesempatan usus untuk menyerap makanan \,sehingga timbul diare,sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

 

2.5 Gejala Klinik Diare

Mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng ,gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare.tinja makin cair,mungkin mengandung darah atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau hijauan karena tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitar nya lecet karena tinja makin lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat,yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus.

 

Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. Bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit terjadialh gejala dehidras.berat badan turun,pada bayi ubun-ubun cekung, tonus dan turgor kulit berkurang selaput lendir mulut dan bibir terlihat kering.

 

2.6 Faktor Terjadinya Diare

Setelah melakukan observasi didesa x,adapun factor-faktor yang mempengaruhi penyakit diare antara lain:

  1. kebiasaan prilaku
  2. sanitasi lingkungan
  3. status social ekonomi
  4. status gizi

 

 

 

2.7    Cara Terjadinya Diare

    • Diare dapat ditularkan melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare
    • Tinja tersebut dikeluarkan oleh orang sakit atau pembawa kuman yang buang air besar disembarang tempat.
    • Tinja tadi mencemari lingkungan misalnya tanah,sungai, air sumur.
    • Orang sehat yang menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah tercemari kemudian menderita diare.

 

2.8    Penularan

  • Kontak langsung dengan penderita
  • Makanan yang tercemar
  • Air minum yang tercemar

 

2.9    Pencegahan Diare

  • Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting :1)sebelum makan, 2)setelah buang air besar, 3)sebelum memegang makanan, 4)setelah menceboki anak dan 5)sebelum menyiapkan makanan.
  • Meminum air minum sehat,atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi.
  • Pengolahan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas dan lain-lain)
  • Membuang air besar dan air kecil pada tempat nya, sebaik nya menggunakan jamban dengan tangki septic.
  • Bayi yang minum susu botol lebih mudah diserang diare dari pada bayi yang disusui ibunya, tetaplah anak disusui walaupun anak menderita diare.
  • Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang.
  • Imunisasi campak.

 

2.10 Penatalaksanaan Diare

Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi seseorang diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration solution (ORS) Seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukan nya sendiri dirumah . kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak.

Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh , atau dengan kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alas an, mulai dari biaya, kesulitan dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit dan lain-lain.pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare semakin lama ,dan semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah yang fatal.

Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS . apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat di atasi sendiri ole tubuh (self-limited disease).

Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti salmonella sp,giardia lamblia., entamoeba coli perlu mendapat terapi antibiotic yang rasional, artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi kuman.oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan antibiotic, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah pengobatan suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau kondisi sudah membaik.

 

Metode pembuatan Larutan Gula Garam (LGG) :

Cucilah tangan dengan menggunakan air dan sabun,masukan kedalam botol yang bersih:

  1. Seujung sendok garam dapur
  2. Empat sendok the gula
  3. Setengah liter air mendidih yang sudah didinginkan dan bersih.

Kocoklah botol dengan baik untuk melarutkan garam dan gula.

 

Metode pembuatan larutan rehidrasi

  1. Cucilah tangan dengan baik
  2. ambilah satu liter air minum bersih dan masukkan kedalam botol. Yang baik adalah mendidihkan air kemudian mendinginkanya,tetapi bila ini tidak memungkinkannya,gunakan air paling bersih yang tersedia. Gunakan botol apapun yang dapat diperoleh asalkan bersih.
  3. Tuangkan serbuk oralit dan campur kan dengan air lalu larutkan secara baik hingga serbuk itu bercampur.
  4. Minumkan larutan rehidrasi ini pada penderita secara teru menerus sesering mungkin (setidaknya 1 liter selama 24 jam hingga diare berhenti).larutan rehidrasi segar setiap hari harus dicampur dalam sebuah botol.larutan yang bersal (sisa) dari hari kemarin harus dibuang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENULISAN

 

3.1    Sifat Penulisan

Penulisan ini adalah penulisan analitik dengan desain cross-sectional dimana variable independent  Dan dependen diamati secara bersamaan ketika observasi dilakukan .

 

3.2     Metode Perumusan Masalah

Metode perumusan masalah menggunakan 2 (dua) variable yaitu variable independent yang terdiri dari kebiasaan prilaku, sanitasi lingkungan, status social ekonomi, status gizi dengan variable dependen yaitu penyakit diare.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3  Kerangka Berfikir Konseptual

Variable independent                                                              Variabel Dependent

 

3.4  Metode Pengumpulan Data

 

3.4.1        Data Primer

untuk data primer yang meliputi factor kebiasaan prilaku, sanitasi lingkungan, status social ekonomi, status gizi yang mempengaruhi penyakit diare,pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi.

 

3.5  Metode Analisa dan Pemecahan Masalah

Metode ini bersifat deskriptif

 

 

 

 

BAB IV

 PEMBAHASAN

 

 

            Menurut hasil observasi kami terhadap masyarakat desa x diWilayah Kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya factor yang mempengaruhi penyakit diare antara lain kebiasaan prilaku , sanitasi lingkungan, status social ekonomi dan status gizi.

Dari hasil observasi diperoleh hubungan antara factor kebiasaan prilaku, sanitasi lingkungan, status social ekonomi, dan status gizi terhadap penyakit diare pada masyarakat desa x diWilayah Kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya.

 

4.1 Hubungan antara factor kebiasaan prilaku dengan penyakit diare

Dari hasil observasi pada masyarakat desa x diWilayah Kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya tahun 2010 dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara factor kebiasaan prilaku dengan penyakit diare.

Hal ini dapat kita lihat dari sebagian besar masyarakat desa x masih mempergunakan sungai sebagai MCK, setelah kami mewawancarai ibu-ibu pada saat sedang mencuci pakaian di sungai ini mereka mengatakan bahwa selain sungai ini di gunakan sebagai tempat mencuci pakaian,anak-anak mereka juga sering mandi disungai,bahkan sebagian masyarakat yang belum ada jamban septic dirumahnya mereka menggunakan sungai inisebagai tempat buang air besar.

Selain itu masih ada sebagian dari mayarakat desa x ini yang mengkonsumsi air mentah tampa diolah terlebih dahulu,mereka mengatakan membeli air di depot mengeluarkan biaya sedangkan air sumur mereka jernih,padahal kita tahu bahwa air jernih belum tentu sehat.

 

Kebiasaan prilaku yang tidak baik tersebut juga dipengaruhi oleh pengetahuan mereka yang masih kurang tentang kesehatan,seperti contoh lain nya mencuci tangan dalam lima waktu penting yaitu 1)sebelum makan, 2)setelah BAB, 3)sebelum memegang bayi, 4)setelah menceboki anak, 5)sebelum menyiapkan makanan.

 

4.2 Hubungan antara faktor sanitasi linkungan dengan penyakit diare

 

Dari hasil observasi pada masyarakat desa x diwilayah Kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya tahun 2010 dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara sanitasi lingkungan dengan penyakit diare.

Didaerah yang kumuh yang padat penduduk, kurang air bersih dengan sanitasi yang jelek penyakit mudah menular,didesa x ini masih banyak sampah-sampah yang terletak dibelakang rumah mereka.pada beberapa tempat shigellosis yaitu salah satu Penyebab diare merupakan penyakit endemic

Infeksi berlangsung sepanjang tahun,terutama pada bayi dan anak-anak yang berumur antara 6 bulan-3 tahun.

 

4.3 Hubungan antara factor status social ekonomi dengan penyakit diare.

Dari hasil observasi pada masyarakat desa x diWilayah Kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya tahun 2010dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara status social ekonomi dengan penyakit diare.

Status social ekonomi yang rendah akan mempengaruhi status gizi anggota keluarga. Hal ini nampak dari ketidakmampuan ekonomi sebagian keluarga masyarakat desa x untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga khusus nya pada anak balita sehingga mereka cenderung memiliki status gizi kurang bahkan status gizi buruk yang memudahkan balita terkena diare.

 

4.4 Hubungan Antara Factor Status Gizi Dengan Penyakit Diare

Dari hasil observasi pada masyarakat desa x di Wilayah Kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya tahun 2010 dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara status gizi dengan penyakit diare.

Status gizi mempengaruhi sekali pada penyakit diare, di desa x ini banyak anak yang kurang gizi, karena pemberian makanan yang kurang episode diare akut lebih berat, barakhir lebih lama dan lebih sering. Kemungkinan terjadi nya diare persisten juga lebih sering dan disentry lebih berat, resiko meninggal akibat diare persisten / disentry sangat meningkat bila anak sudah kurang gizi.

 

 

 

 

BAB V

 KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 Kesimpulan

  1. Menurut data Badan kesehatan Dunia (WHO) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari dan diare adalah penyebab nomor satu kematian diseluruh dunia.sementara UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak )memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena diare.
  2. Menurut data diPuskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya dari bulan januari-desember 2010 diare adalah penyakit tertinggi.
  3. Hasil observasi pada masyarakat didesa x diwilayah Kerja Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya menunjukkan bahwa adanya hubungan antara kebiasaan prilaku, sanitasi lingkungan, status social ekonomi, status gizi dengan penyakit diare.

 

5.2 Saran-saran

 

  1. Untuk menanggulangi penyakit diare terhadap masyarakat desa x dan seluruh masyarakat desa di wilayah Kerja puskesmas jeuram kepada kepala puskesmas di harapkan dapat membina dan mempererat kerja sama dengan dinas kesehatan setempat dan masyarakat desa x khusus nya serta seluruh masyarakat diwilayah kerja puskesmas jeuram.
  2. Diharapkan kepada seluruh masyarakat desa x agar lebih memperhatikan kesehatan nya serta didukung oleh pelayanan dan penyuluhan kesehatan oleh tenaga kesehatan di puskesmas jeuram sehingga mampu merubah kebiasaan prilaku yang tidak baik, dan lebih memperhatikan sanitasi lingkungan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH WARIA

Posted in Uncategorized on f19,13 by B1L1

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang

 

Waria (portmanteau dari Wanita-pria) atau wadam (dari hawa-adam) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafroditisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan.

“Kami tak pernah meminta dilahirkan sebagai waria”. Bagi Waria, dengan mendandani diri seperti perempuan, ia mendapatkan kenikmatan batin yang begitu dalam. Ia seolah berhasil melepas beban psikologi yang selama ini masih memberatkannya.

Waria, menurut Pakar Kesehatan Masyarakat dan pemerhati waria dr Mamoto Gultom, adalah subkomunitas dari manusia normal. Bukan sebuah gejala psikologi, tetapi sesuatu yang biologis. Kaum ini berada pada wilayah transgender: perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki.

Kenapa orang bisa menjadi waria, menurut Guru besar psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan

boleh jadi pada diri laki-laki terdapat sisi feminin yang Allah anugerahkan. Tapi nggak lantas dengan alasan itu, laki-laki dibolehkan jadi waria. Nggak sobat. Karena pada hakikatnya, seperti penuturan Prof. Dr. Koentjoro, kecenderungan menjadi waria lebih diakibatkan oleh salah asuh atau pengaruh lingkungan sekitarnya. Bukan penyakit turunan atau karena urusan genetik.

 

  1. Visi dab Misi
  1. Visi

Membantu, mendukung dan mengarahkan waria menjadi individu dan kelompok yang percaya diri dan mempunyai pola pikir yang positif, sehingga menjadi individu dan kelompok yang mandiri dan berdaya baik di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi.

  1. Misi

Kami percaya bahwa dengan adanya Bacaan seprti ini akan sangat bermanfaat untuk Waria. dalam meminimalkan stigma dan diskriminasi,mendapatkan dukungan psikologis, mengakses layanan kesehatan, layanan ekonomi dan sosial.

 

  1. Tujuan

Untuk membantu dan memfasilitasi Waria dalam meminimalkan stigma dan diskriminasi, mendapatkan dukungan psikologis, mengakses layanan kesehatan dan layanan sosial yang diperlukan melalui kegiatan pertemuan kelompok dan masyarakat serta pemerintah ,peningkatan kapasitas individu dan kelompok,membuka akses layanan kesehatan,membuka akses layanan sosial dan ekonomi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Waria Di Tinjau dari segi hubungannya dengan social masyarakat

 

Maraknya kampanye legalisasi keberadaan waria menunjukkan gencarnya serangan budaya Barat ke negeri kita. Hal ini berdampak pada dua hal:

Pertama, setelah keberadaan mereka dipopulerkan televisi dalam sinetron atau iklan komersil, masyarakat jadi penasaran pengen tahu banyak dengan kehidupan waria. Dari asal-usulnya, suka-dukanya, kesehariannya, sampe masa depan mereka. Liputan tentang diskriminasi terhadap waria dikemas sedemikian rupa untuk memancing emosi dan perasaan kasian pemirsa. Ujung-ujungnya, informasi seputar waria yang disuguhkan lebih diarahkan kepada legalisasi waria di mata masyarakat.

Media mampu menyulap kebiasaan yang salah menjadi sesuatu yang lumrah. Waria dijadikan produk hiburan. Dengan cara bicaranya yang kemayu, keluar deh tuh kata-kata asing khas kamus gaulnya Debby Sahertian yang mengundang gelak tawa. Cara berdandannya juga rada-rada unik. Wajah dipoles sana-sini pake kosmetik biar tampak cantik. Meski hasilnya lebih sering bikin yang ngeliat cekakak-cekikik.

Dan akhirnya, terjadi pergeseran sudut pandang dan sikap kaum Muslimin terhadap keberadaan waria. Kita seperti nggak punya pilihan untuk mengatakan kalo perilaku mereka itu keliru. Yang ada, kita dikasih pilihan untuk cuek bebek atau mendukung. Sebab dalam kehidupan sekuler yang banyak diopinikan media, kebebasan dalam berperilaku adalah hak individu yang nggak bisa diganggu gugat. Dan menjadi waria, merupakan salah satu ekspresi kebebasan yang dimaksud. Kalo ada yang nggak setuju? Ya, dilarang dengan keras untuk ngerecokin. Termasuk nggak boleh aktif mengingatkan waria untuk kembali ke jalan yang benar. Apalagi sampai melarang atau memvonis bersalah. Bisa-bisa berurusan ama aparat karena dianggap mengganggu kebebasan orang lain.

Kedua, maraknya ekspos media terhadap waria menjadi cara yang jitu yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kampanye penerapan syariat Islam yang tengah gencar di berbagai daerah di nusantara ini. Aktivitas amar makruf nahyi munkar pun terlupakan. Masyarakat semakin cuek dengan berbagai permasalahan yang muncul akibat diterapkannya sistem sekuler. Jika dibiarkan, boleh jadi negeri kita akan semakin liberal dan mungkin suatu saat nanti legalisasi perkawinan sejenis nggak cuma terjadi di Belanda, Spanyol atau Kanada. Tapi juga di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

  1. Waria di Tinjau dari sudut padang Agama

Sampai kiamat pun Islam tidak akan pernah mentoleransi keberadaan waria di tengah masyarakat. Meski media massa tertentu mengopinikan kalo menjadi waria itu bagian dari kodrat, Islam tetap melihatnya sebagai perilaku maksiat.

Aturan hidup sekuler telah memanjakan manusia untuk berbuat semau gue. Penyaluran yang salah dari potensi yang dimiliki manusia dalam peradaban Barat lebih populer dibanding cara yang benar. Makanya tidak heran kalo gaya hidup free sex, homoseks, lesbian, atau waria merajalela di Eropa. Sebab mereka pikir lebih baik mati-matian mereguk kepuasan dunia daripada setengah hidup menahan hasrat demi kehidupan akhirat.

Dan baru-baru ini terdengar kabar di beberapa negara Eropa seperti di Belanda, Belgia, Spanyol, dan Kanada, pemerintahnya melegalkan perkawinan sejenis. Seolah melestarikan keberadaan kaum homoseks dan lesbian. Padahal lebih dari 500.000 umat Katolik berkampanye didukung sekitar 20 uskup senior untuk menentang hukum baru di Spanyol yang mengesahkan perkawinan sesama jenis. Tapi tetep aja pemerintah Spanyol nggak menggubris larangan itu.

Di sinilah pentingnya kita kembali kepada aturan Islam sebagai jalan kebaikan yang udah dijamin keselamatan dunia-akhirat oleh Allah Swt. Dalam kasus waria, Islam mengajarkan agar orang tua mendidik anaknya sesuai dengan kodratnya. Perlahan-lahan diperkenalkan hukum-hukum Islam sesuai dengan jenis kelaminnya. Ketika beranjak dewasa, diajarkan untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis.

Dan peran negara dalam hal ini, membentuk lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak sesuai dengan kodratnya. Di antaranya dengan mencegah masuknya peradaban Barat yang rusak melalui media massa cetak dan elektronik. Kalo masih ada yang nekat berperilaku waria, mereka kudu berhadapan dengan aturan Islam yang diterapkan negara. Mereka bakal terkena sanksi yang ditentukan oleh khalifah (ta’jir). Bisa berupa karantina di balik jeruji besi sambil diberikan nasihat agar tobat dan tidak mengulanginya lagi

Saat ini, sikap terbaik yang kudu kita tunjukkan terhadap waria bukanlah dengan kebencian, tapi cinta. jangan salah. Wujud cinta kita adalah dengan mengajak para waria untuk meninggalkan statusnya.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Waria di tinjau dari sudut padang kesehatan

Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 34 persen waria di Jakarta positif mengidap HIV, virus yang mengakibatkan sindrom penurunan ketahanan tubuh (AIDS).

Angka ini terus naik sejak tahun 1995 yang hanya 0,3 persen, lalu di tahun 1996 menjadi 3,2 persen, dan enam persen di tahun 1997. Prevalensi HIV pada waria di Jakarta pada tahun 2002 melonjak jadi 21,7 persen, tahun 2005 naik hingga menjadi 25 persen, dan tahun 2007 ditaksir sampai di titik 34 persen.

Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah waria di Indonesia pada tahun 2006 adalah 20.960 hingga 35.300 orang.

Sementara itu STBP 2007 memperkirakan prevalensi HIV di kalangan waria di Bandung adalah 14 persen dan di Surabaya 25,2 persen.

“Temuan ini perlu mendapat perhatian khusus karena termasuk angka prevalensi yang tertinggi di Asia dalam tahun-tahun terakhir,” kata Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan.

Dalam temuannya, STBP 2007 juga menyebutkan mayoritas waria menjual seks kepada pelanggan pria, banyak waria juga memiliki pasangan tetap priayang non-komersial.

Pemakaian kondom konsisten selama seks anal pada waria tetap tidak memadai dan sejumlah besar waria baru-baru menerima layanan konseling dan uji HIV.

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Sampai kiamat pun Islam tidak akan pernah mentoleransi keberadaan waria di tengah masyarakat. Meski media massa tertentu mengopinikan kalau menjadi waria itu bagian dari kodrat, Islam tetap melihatnya sebagai perilaku maksiat.

Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 34 persen waria di Jakarta positif mengidap HIV, virus yang mengakibatkan sindrom penurunan ketahanan tubuh (AIDS).

 

  1. B.     Saran – saran

 

Untuk menghindari dampak negative dari waria dan penyimpagan sex lainya , maka kita harus secara dini menangulangi nya baik dari segi kesehatan maupun dari segi agama, oleh karma itu dukungan,dalam hal ini dukungan keluarga dan dukungan pemerintah sangat diharapakan,supaya dampak tersebut dapat di minimalisirkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. www.waspada.co.id/index.php?…id…wariaislam
  2. www.eramuslim.com
  3. www.lintasberita.com/all/entertain/Hukum_Waria_dalam_Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Kami menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini, baik dari isi maupun penulisannya. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan semua pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan

 

 

 

 

Penulis

MAIDAWATI,SKM

MAKALAH PSDA

Posted in Uncategorized on f19,13 by B1L1

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

 

Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari kita memerlukan air bersih untuk minum, memasak, mencuci dan keperluan lain. Air tersebut mempunyai standar 3 B yaitu tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak beracun. Tetapi adakalanya kita melihat air yang berwarna keruh dan berbau serta sering kali bercampur dengan benda-benda sampah seperti kaleng, plastik, dan sampah organic. Pemandangan seperti ini kita jumpai pada aliran sungai atau dikolam-kolam. Air yang demikian biasa disebut air kotor atau disebut pula air yang terpolusi.Darimana polutan itu berasal ?Bagi kita, khususnya masyarakat pedesaan sungai adalah sumber air sehari-hari. Sumber polutan dapat berasal dari mana-mana. Contohnya limbah-limbah industri dibuang dan dialirkan ke sungai. Semua akhirnya bermuara di sungai dan pencemaran polutan air ini dapat merugikan manusia bila manusia mengkonsumsi air yang tercemar.

  1. Permasalahan

PermasalahanPermasalahan yang terjadi :

-          Apabila polusi air disebabkan oleh zat-zat kimia buatan manusia mempunyai dampak negatif.

-          Dapat mengakibatkan penyakit bagi manusia dan hewan yang hidup didarat dan diair akan mati oleh racun.

  1. Tujuan- Supaya dapat lebih memahami bahaya polusi air

-          Dapat membedakan antara air yang bersih dari polusi dan air yang sudah terpolusi

-          Dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan air yang bersih dan yang terpolusi.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Polusi Air

Pengertian Polusi Air Salah satu dampak negatif kemajuan ilmu dan teknologi yang tidak digunakan dengan benar adalah terjadinya polusi (pencemaran). Polusi adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur atau komponen lain yang merugikan kedalam lingkungan akibat aktivitas manusia atau proses alami. Dan segala sesuatu yang menyebabkan polusi disebut Polutan.Sesuatu benda dapat dikatakan polutan bila :

-          Kadarnya melebihi batas normal

-          Berada pada tempat dan waktu yang tidak tepat.

Polutan dapat berupa debu, bahan kimia, suara, panas, radiasi, makhluk hidup, zat-zat yang dihasilkan makhluk hidup dan sebagainya. Adanya polutan dalam jumlah yang berlebihan menyebabkan lingkungan tidak dapat mengadakan pembersihan sendiri (regenerasi). Oleh karena itu, polusi terhadap lingkungan perludideteksi secara dini dan ditangani segera dan terpadu.Polusi Air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur atau komponen lainnya kedalam air sehingga kualitas air terganggu. Kualitas air terganggu ditandai dengan perubahan bau, rasa dan warna. Beberapa contoh polutannya sebagai berikut :

  1. Fosfat

Fosfat berasal dari penggunaan pupuk buatan yang berlebihan dan
deterjen.

  1. Nitrat dan Nitrit

Kedua senyawa ini berasal dari penggunaan pupuk buatan yang
berlebihan dan proses pembusukan materi organic.

  1. Poliklorin Bifenil (PCB)

Senyawa ini berasal dari pemanfaatan bahan-bahan pelumas, plastik
dan alat listrik

  1. Residu Pestisida Organiklorin

Residu ini berasal dari penyemprotan pestisida padaa tanaman
untuk membunuh serangga.

  1. Minyak dan Hidrokarbon

Minyak dan hidrokarbon dapat berasal dari kebocoran pada roda
dan kapal pengangkut minyak.

  1. Radio Nuklida

Radio nuklida atau unsur radioaktif berasal dari kebocoran tangki
penyimpanan limbah radioaktif.

  1. Logam-logam Berat

Logam berat berasal dari industri bahan kimia, penambangan dan
bensin.

  1. Limbah Pertanian

Limbah pertanian berasal dari kotoran hewan dan tempat
penyimpanan makanan ternak.

  1. Kotoran Manusia

Kotoran manusia berasal dari saluran pembuangan tinja manusia.

  1. Macam-Macam Sumber Polusi Air Sumber polusi air

Macam-Macam Sumber Polusi Air Sumber polusi air antara lain limbah industri, pertanian dan rumah tangga. Ada beberapa tipe polutan yang dapat masuk perairan yaitu :

-          bahan-bahan yang mengandung bibit penyakit, bahan-bahan yang banyak membutuhkan oksigen untuk pengurainya, bahan-bahan kimia organic dari industri atau limbah pupuk pertanian, bahan-bahan yang tidak sedimen (endapan), dan bahan-bahan yang mengandung radioaktif dan panas. Penggunaan insektisida seperti DDT (Dichloro Diphenil Trichonethan) oleh para petani, untuk memberantas hama tanaman dan serangga penyebar penyakit lain secara berlabihan dapat mengakibatkan pencemaran air. Terjadinya pembusukan yang berlebihan diperairan dapat pula menyebabkan pencemeran. Pembuangan sampah dapat mengakibatkan kadar O2 terlarut dalam air semakin berkurang karena sebagian besar dipergunakan oleh bakteri pembusuk. Pembuangan sampah organic maupun yang anorganic yang dibuang kesungai terus-menerus, selain mencemari air, terutama dimusim hujan ini akan menimbulkan banjir. Belakangan ini musibah karena polusi air datang seakan tidak terbendung lagi disetip musim hujan. Sebenarnya air hujan adalah rahmat. Akan tetapi rahmat dapat menjadi ujian apabila kita tidak mengelolanyadengan benar. Jika kita amati, air adalah unsur alam yang penting bagi manusia dengan sifat mengalir dan meresapnya. Apabila jalur-jalur alirannya terganggu dan lahan resapannya terbatas, air akan mengalir kesegala penjuru mengisi ruang-ruang yang paling rendah. Akhirnya terjadilah banjir. Karena itu yang disebut polusi air karena banyak kita yang kurang disiplin, misalnya dalam membuang sampah sembarangan. Musibah banjir dapat terbagi dua akibat polusi air antara lain :

  1. Banjir bandang (banjir besar), terjadi akibat air meluap dari jalur-jalur aliran (sungai) dengan volume air yang besar.
  2. Banjir genangan yaitu banjir local (setempat) akibat tergenangnya / terkonsentrasinya air hujan disuatu daerah yang saluran air (arainase) dan lahan resapannya terbatas. Akibatnya dalam waktu tertentu (temporer) air akan mengalir disekitar lingkungan rumah kita.
  • Bahaya Dari Akibat Polusi AirBibit-bibit penyakit berbagai zat yang bersifat racun dan bahan radioaktif dapat merugikan manusia
  • Bahaya Dari Akibat Polusi AirBibit-bibit penyakit berbagai zat yang bersifat racun dan bahan radioaktif dapat merugikan manusia Berbagai polutan memerlukan O2 untuk pengurainya. Jika O2 kurang , pengurainya tidak sempurna dan menyebabkan air berubah warnanya dan berbau busuk. Bahan atau logam yang berbahaya seperti arsenat, uradium, krom, timah, air raksa, benzon, tetraklorida, karbon dan lain-lain. Bahan-bahan tesebut dapat merusak organ tubuh manusia atau dapat menyebabkan kanker. Sejumlah besar limbah dari sungai akan masuk kelaut.Polutan ini dapat merusak kehidupan air sekitar muara sungai dan sebagian kecil laut muara. Bahan-bahan yang berbahaya masuk kelaut atau samudera mempunyai akibat jangka panjang yang belum diketahui. Banyak jenis kerang-kerangan yang mungkin mengandung zat yang berbahaya untuk dimakan. Laut dapat pula tecemar oleh minyak yang asalnya mungkin dari pemukiman, pabrik, melalui sungai atau dari kapal tanker yang rusak. Minyak dapat mematikan, burung dan hewan laut lainnya, sebagai contoh, Merkuri yang dibuang sebuah industri plastik keteluk minamata terakumulasi di jaringan tubuh ikan dan masyarakat yang mengkonsumsinya menderita cacat dan meninggal.Akibat yang ditimbulkan oleh polusi air:

    1. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya, kandungan oksigen
    2. Terjadinya ledakan ganggang dan tumbuhan air (eurotrofikasi)
    3. Pendangkalan dasar perairan
    4. Tersumbatnya penyaring reservoir, dan menyebabkan perubahan ekologie Dalam jangka panjang adalah kanker dan kelahiran cacat
    5. Akibat penggunaan pertisida yang berlebihan sesuai selain membunuh hama dan penyakit, juga membunuh serangga dan makhluk berguna terutama predatorg. Kematian biota kuno, seperti plankton, iakn, bahkan burung. Mutasi sel, kanker, dan leukeumia.
    1. Usaha-usaha Mengatasi dan Mencegah Polusi Air

    Pengenceran dan penguraian polutan air tanah sulit sekali karena airnya tidak mengalir dan tidak mengandung bakteri pengurai yang aerob jadi, air tanah yang tercemar akan tetap tercemar dalam yang waktu yang sangat lama, walau tidak ada bahan pencemaran yang masuk. Karena ini banyak usaha untuk menajaga agar tanah tetap bersih misalnya:

    1. Menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah perumahan atau pemukiman
    2. Pembuangan limbah industri diatur sehingga tidak mencermari lingkungan atau ekosistem
    3. Pengawasan terhadap penggunaan jenis – jenis pestisida dan zat – zat kimia lain yang dapat menimbulkan pencemaran
    4. Memperluas gerakan penghijauan
    5. Tindakan tegas terhadap perilaku pencemaran lingkungan
    6. Memberikan kesadaran terhadap masyaratkat tentang arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih lebih mencintai lingkungan hidupnya
    7. Melakukan intensifikasi pertanian

    Adapun cara lain untuk mengatasi polusi air atau yang dikenai dengan sebutan banjir pun ada dua macam

    1. Banjir Bandang dapat diatasi secara meluas dengan didukung berbagai disiplin ilmu
    2. banjir genangan dapat diatasi dengan membersihkan air dari penyumbatan yang mengakibatkan air meluap

    Banyak orang mengatakan ” lebih baik mecegah dari pada mengatasi”, hal ini berlaku pula pada banjir genangan di bawah ini ada sejumlah langkah yang dapat kita lakukan untuk mencegah banjir genangan :

    1. Dalam merencanakan jalan – jalan lingkungan baik itu program pemerintah maupun swadaya masyarakat sebaiknya memilih material jalan yang menyerap air misalnya, penggunaan bahan dari paving blok (blok – blok adukan beton yang disusun dengan rongga – rongga resapan air disela – selanya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah penataan saluran / drainase lingkjungan pembuatannyapun harus bersamaan dengan pembuatan jalan tersebut

    2. Apabila di halaman pekarangan rumah kita masih terdapat ruang – ruang terbuka, buatlah sumur – sumur resapan air hujan sebanyak – banyaknya. Fungsi sumur resapan air ini untuk mempercepat air meresap kedalam tanah. Dengan membuat sumur resapan air hujan tersebut, sebenarnya kita dapat memperoleh manfaat seperti berikut:

    a. Persediaan air bersih dalam tanah disekitar rumah kita cukup baik dan banyak

    b. Tanah bekas galian sumur dapat dipergunakan untuk menimbun lahan – lahan yang rendah atau meninggikan lantai rumah

    c. Apabila air hujan tidak tertampung dalam sebuah selokan – selokan rumah / talang – talang rumah, air dapat dialirkan kesumur – sumur resapan. Janganlah membuang sampah atau mengeluarkan air limbah rumah tangga (air bekas mandi, cucian dan sebagainya) kedalam sumur resapan air hujan karena bisa mencemarkan kandungan air tanah. Khusus untuk buangan air limbah rumah tangga, buatlah sumur resapan tersendiri

    d. Apabila air banjir masuk kerumah mencapai ketinggian 20-50 cm
    satu – satunya jalan adalah meninggikan lantai rumah kita diatas
    ambang permukaan air banjire. Cara lain adalah membuat tanggul di depan pintu masuk rumah kita

    Cara ini sudah umum dilakukan orang hanya teknisnya sering
    kurang terencana secara mendetail

    1. Kendala dalam mengatasi pencemaran air
      1. Kurangnya kesadaran diri dari orang – orang untuk membuang
        sampah pada tempatnya
      2. Kurangnya sistem drainase di jalan – jalan
      3. limbah – limbah yang tidak diolah oleh manajemen pabrik dengan baik, sehingga mencemari lingkungan sekitar
      4. Kurangnya perhatian dari pemerintah mengenai pencemaran lingkungan

    BAB III

    PENUTUP

    1. Kesimpulan

    Berdasarkan pembahasan dari Bab II dapat disimpulkan sebagai berikut :

    1. Polusi adalah peristiwa masuknya zat, energi unsure atau komponen
      lain ke dalam lingkungan akibat aktifitas manusia atau proses alami
    2. Segala sesuatu yang menyebabkan polusi disebut polutan
    3. Polusi air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsure, atau
      komponen lainya ke dalam air sehingga kualitas air terganggu
    4. Sumber polusi air antara lain limbah industri, pertanian, dan rumah
      tangga
    5. Polusi air juga dapat menimbulkan bencana diantaranya banjir
    6. Elektrofikasi adalah penimbunan mineral yang menyebabkan
      peledakan alga secara serentak menutupi pencemaran air
    7. logam berbahaya seperti arsenat, benzon, timah dan lain – lain dapat merusak organ tubuh manusia dan menyebabkan kanker
    8. Akibat yang ditimbulkan polusi air dalam zangua pasang adalah
      kanker dan kelahiran bayi cacat
    9. Melakukan intensifikasi pertanian
    10. Banjir genangan dapat diatasi dengan membersihkan saluran air
      dari penyumbatan
    1. Saran – saran
    1. Hindari pemakaian obat pemberantas hama dan serangga secara
      berlebihan
    2. Sebaiknya kita berhati-hati dalam menggunakan air, karena air itu
      ada yang terpolusi dan tidak terpolusi
    3. agalah agar air di lingkungan rumah dan sekitarnya agar tetap
      bersih dan terhindar dari pencemaran air
    4. Jangan membuang sampah kesungai, dan jika terjadi penimbunan
      sampah di sungai akan mengakibatkan banjir

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur telah kita panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT, karena dengan rahmatnya saya bisa menyelasaikan makalah ini, tanpa mengalami kesulitan yang berarti, makalah ini saya buat untuk diseminarkan agar bisa bermanfaat bagi semua orang yang mengikutinya.

    Dalam menyelasaikan makalah ini saya mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, jadi pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama pada guru saya yang mendidik saya sampai saat ini.

    Saya menyadarinya bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. oleh sebab itu kritik dan saran yang bersifat membangun akan saya terima dengan senang hati dan saya berharap makalah ini bermanfaat bagi siapapun.

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI KERJA PERAWAT DI PUSKESMAS JEURAM KECAMATAN SEUNAGAN KABUPATEN NAGAN RAYA TAHUN

    Posted in Uncategorized on f19,13 by B1L1

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

     

    1.1  Latar Belakang

    Instansi pemerintah maupun swasta, bukan saja mengharapkan karyawan yang mampu, cakap dan terampil tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan berkeinginan mencapai hasil kerja yang optimal. Untuk itu pimpinan hendaknya berusaha agar karyawan mempunyai motivasi tinggi untuk melaksanakan tugas atau pekerjaannya (Hasibuan, 2005).

    Motivasi berprestasi karyawan dalam kerja organisasi yang baik akan membawa keberhasilan yang menunjang pada kinerja individu. Untuk itu agar karyawan memiliki sikap yang positif terhadap organisasi, haruslah diciptakan dan dipelihara kondisi kerja yang bagus. Mewujudkan suatu keberhasilan organisasi tidak terlepas dari tantangan, baik tantangan untuk mengusahakan supaya karyawan bekerja sama secara efektif maupun tantangan untuk mendorong karyawan supaya mereka mau melaksanakan pekerjaan dengan semangat dan antusias (Timothy, 2007).

    Motivasi menjadi sangat penting karena dengan motivasi diharapkan setiap karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Motivasi akan memberikan inspirasi, dorongan, semangat kerja bagi karyawan sehingga terjalin hubungan kerja yang baik antara karyawan dan pimpinan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara maksimal (Hasibuan, 2005).

    Begitu juga motivasi berkaitan erat dengan usaha, kepuasan pekerja dan performance pekerjaan. Motivasi sangat penting dalam meningkatkan semangat kerja dan produktifitas karyawan, tugas pimpinan adalah memberikan motivasi atau dorongan kepada karyawan agar bias bekerja sesuai dengan yang diharapkan oleh organisasi. Motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai kepuasan dirinya. Seseorang yang sangat termotivasi yaitu orang yang melaksanakan upaya substansial, guna menunjang tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya dan organisasi dimana ia bekerja. Seseorang yang termotivasi hanya memberikan upaya minimum dalam hal bekerja motivasi merupakan sebuah konsep penting dalam studi kerja individu (Winardi, 2001).

    Menurut Danim (2003), ada dua faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi pada karyawan yaitu meliputi faktor internal yang terdiri dari tingkat

    kecerdasan, kepribadian, pengalaman kerja, jenis kelamin dan usia, sementara faktor eksternal terdiri dari hubungan pimpinan dengan bawahan, hubungan antar rekan sekerja, sistem pembinaan dan pelatihan serta sistem kesejahteraan dan hubungan fisik tempat kerja. Motivasi dalam pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk menumbuh kambangkan semangat, mendinamiskan kejenuhan agar senantiasa tetap bersemangat dalam berkerja karena pada hakikatnya misi keperawatan adalah tugas yang sangat mulia sebagai integral dari pelayanan kesehatan. Motivasi adalah suatu tindakan yang diambil oleh orang untuk kepuasan terhadap kebutuhan yang terpenuhi.

    Puskesmas sebagai sarana kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Staf  Puskesmas terutama perawat di Puskesmas mempunyai peranan penting karena merupakan tenaga terdepan dan terbanyak dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dalam melaksanakan tugas di Puskesmas kedudukan perawat dapat dipandang dari dua sisi. Sisi pertama adalah sebagai profesi artinya perawat harus mampu melaksanakan tugasnya secara professional kepada masyarakat. Sisi kedua adalah perawat bagian dari unsur pelaksanaan puskesmas. Untuk itu dalam melaksanakan tugas di Puskesmas mengacu kepada pengorganisasian Puskesmas yang mencakup pembagian kerja, baik sebagai koordinator program, pelaksanaan program dan penanggung jawab pelaksanaan kegiatan di lapangan (Depkes RI, 2005).

    Barret dalam Abraham dan Shanley (1997), mengkaji motivasi perawat untuk tetap bekerja untuk di departemen kesehatan Inggris mengindentifikasikan empat alasan yang berkaitan dengan kerja, kepuasan dengan pekerjaan mereka, suasana kerja yang baik, dukungan manajerial yang baik dan tersedianya pendidikan berkelanjutan serta pengembangan professional.

    Said (2004) melakukan penelitian terhadap 57 perawat PNS, 35 Perawat Kontrak di instalasi Rawat Inap RSUD Kulon Progo. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa motivasi Perawat Kontrak rata-rata 57,9%, dan motivasi Perawat PNS rata-rata sedang 86,7%, serta tingkat kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan baik 94,1%.

    Saputra (2003) melakukan penelitian tentang gambaran motivasi perawat dalam pelaksanaan upaya perawatan kesehatan masyarakat di Puskesmas kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara. Hasil penelitian pada 32 responden di Puskesmas Kuta Makmur diperoleh responden yang mempunyai motivasi kerja tinggi sebanyak 44% dan responden yang mempunyai motivasi kerja rendah 56%.

    Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya terdapat 13 Puskesmas dengan jumlah perawat 500 orang, yang terdiri dari 378 orang (80%) PNS, 100 orang (6,6%) masih berstatus sebagai Honor Daerah dan 22 orang (13%) masih status Tenaga Bakti (Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya, 2009). Sedangkan data yang diperoleh dari Puskesmas Jeuram, jumlah tenaga kerja keseluruhan adalah  91 orang, di antaranya 3 orang dokter, 1 orang Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM), 45 orang Perawat, 28 orang bidan, 1 orang akademi gizi dan 13 orang tamatan SLTA.

    Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan penulis didapatkan bahwa tingkat kedisiplinan sebagian besar perawat masuk kerja masih kurang yang tercermin dari jam  masuk dan pulang  setiap harinya. Selain itu berdasarkan wawancara yang dilakukan pada perawat didapatkan bahwa ; tidak adanya  ketentraman dalam bekerja yang diakibatkan oleh kondisi kerja yang kurang mendukung seperti ruang kerja yang tidak tertata dengan rapi, kurangnya penghargaan dari atasan terhadap kinerja perawat, kurangnya perhatian (supervisi) dari atasan terhadap keberhasilan staf dalam menjalankan tugas melayani fisiologis tenaga kesehatan.  Berdasarkan kondisi dan kenyataan yang ditemui, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang motivasi kerja perawat di Puskesmas Jeuram.

     

     

     

    1.2  Rumusan Masalah

    Tidak adanya ketentraman dalam bekerja dikarenakan kondisi kerja yang kurang mendukung , kurangnya penghargaan dari atasan, kurangnya perhatian terhadap keberhasilan staf dalam menjalankan tugas dapat mempengaruhi motivasi kerja tenaga kesehatan dalam menjalankan fungsinya dalam pelayanan kesehatan. Berdasarkan rumuasan masalah tersebut, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu :” Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan motivasi kerja perawat di Puskesmas Jeuram Kec. Seunagan Kabupaten Nagan Raya tahun 2011?”.

     

    1.3        Tujuan Penelitian

    1.3.1        Tujuan Umum

    Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi kerja perawat di Puskesmas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya tahun 2011.

    1.3.2        Tujuan Khusus

    1. Menaganalisis hubungan jenis kelamin dengan motivasi kerja perawat di Puskemas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya Tahun 2011.
    2. Menganalisis hubungan  tingkat pendidikan dengan motivasi kerja perawat di Puskemas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya Tahun 2011.

     

    1. Menganalisis  hubungan penghargaan dengan motivasi kerja perawat di Puskemas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya Tahun 2011.
    2. Menganalisis hubungan Supervisi dengan motivasi kerja perawat di Puskemas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya Tahun 2011.
    3. Menganalisis hubungan kondisi kerja dengan motivasi kerja perawat di Puskemas Jeuram Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya Tahun 2011.

     

    1.4        Manfaat Penelitian

    1.4.1        Teoritis

    1. Bagi penulis untuk dapat mengaplikasi ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah serta meningkatkan keterampilan penulisan dalam penelitian ilmiah.
    2. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat dapat menambah kepustakaan dalam bidang Administrasi Kebijakkan Kesehatan.

    1.4.2        Aplikatif

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Puskesmas Jeuram dan juga sebagai informasi bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya mengenai tingkat motivasi kerja pada tenaga kesehatan khususnya perawat yang bekerja di Puskesmas Jeuram.

    PENGARUH PERSONAL HIGIENE, SANITASI INGKUNGAN TERHADAP PENYAKIT DIARE DI DESA ………………………… KECAMATAN SAMATIGA KABUPATEN…………………………………

    Posted in Uncategorized on f10,12 by B1L1

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    1.1.      Latar Belakang

    Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS. Dalam PHBS, ada 5 program prioritas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan Lingkungan, Gaya Hidup, Dana Sehat/Asuransi Kesehatan/JPKM. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan dalam menciptakan suatu kondisi bagi kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat secara berkesinambungan. Upaya ini dilaksanakan melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Depkes, 2005).

    Manfaat PHBS adalah terwujudnya rumah tangga yang derajat kesehatannya meningkat dan tidak mudah sakit serta meningkatnya produktivitas kerja setiap anggota keluarga yang tinggal dalam lingkungan sehat dalam rangka mencegah timbulnya penyakit dan masalah-masalah kesehatan lain. (Depkes, 2006)

    Keadaan lingkungan yang sehat, tercipta dengan mewujudkan kesadaran individu dan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), untuk mencapai tujuan tersebut dijabarkan dalam kegiatan-kegiatan yang mengarah untuk meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat hidup sehat dengan indikator rumah tangga sehat, institusi yang berperilaku sehat, tempat-tempat umum sehat, Posyandu Purnama dan Mandiri serta meningkatkan kemandirian masyarakat sebagai jaminan pemeliharaan kesehatan. (Ferizal, 2011)

    Pembangunan di bidang kesehatan juga berjalan dengan cepat, untuk itu diperlukan arah, kebijakkan dan prioritas pembangunan di bidang kesehatan. Pencapaian pembangunan kesehatan dinilai dengan pencapaian target pembangunan di bidang kesehatan. Salah satu target pembangunan di bidang kesehatan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah tercapainya 75 %  rumah tangga yang mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat dan secara nasional target yang ingin di tetapkan adalah 80 %  rumah tangga yang mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). (Dinkes NAD, 2009)

    Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah perwujudan Paradigma Sehat dalam budaya perorangan, keluarga dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental spiritual maupun sosial. (Entjang, 2005)

    Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus diusahakan agar jamban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap (Entjang, 2005).

    Jamban berfungsi sebagai tempat pembuangan air besar maupun air kecil. Keberadaannya tidak dipungkiri merupakan suatu hal wajib bagi setiap rumah, seharusnya begitu. Tapi pada kenyataannya tidak semua rumah memiliki jamban (Entjang, 2005)

    Jamban keluarga (JAGA) merupakan sarana sanitasi dasar untuk menjaga kesehatan lingkungan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pemanfaatan jamban keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan kebiasaan masyarakat. Penggunaan jamban yang baik adalah kotoran yang masuk hendaknya disiram dengan air yang cukup, hal ini selalu dikerjakan sehabis buang tinja sehingga kotoran tidak tampak lagi. Secara periodik leher angsa dan lantai jamban digunakan dan dipelihara dengan baik, sedangkan pada jamban cemplung lubang harus selalu ditutup jika jamban tidak digunakan lagi, agar tidak kemasukan benda-benda lain (Entjang, 2005).

    Saat ini diprediksi, Indonesia memproduksi 5,6 juta ton tinja per hari yang sebagian besar pembuangan masih dilakukan ke sungai atau mempergunakan sumur galian yang tidak memenuhi persyaratan sehingga mencemari air tanah yang mengakibatkan 13 ribu balita terkena diare setiap harinya (Entjang, 2005)

    Diare menempati urutan kedelapan sesudah HIV/AIDS sebagai penyebab kematian terbesar pada kelompok usia kurang dari 5 tahun, dalam katagori penyakit menular (Communicable disease). Dalam laporan tersebut penyebab kematian pada kelompok usia kurang dari 5 tahun karena diare secara regional yang tertinggi terdapat di kawasan Afrika dengan jumlah kematian mencapai 317 per seribu penduduk, Eastern Mediterranian 28 kamatian per seribu penduduk, Asia Tenggara 27 kematian per seribu penduduk, Amerika 2 kematian per seribu penduduk, Eropa 2 kematian per seribu penduduk, Pasifik Barat 1 kematian per seribu penduduk (WHO, 2007).

    Angka penderita diare di tingkat Nasional adalah sebesar 35,7 %, sedangkan untuk tingkat Provinsi Aceh diare sebesar 18,0 % (Dinkes Aceh, 2009). Sedangkan di Kecamatan Samatiga kejadian penyakit diare periode Januari – Desember tahun 2010 terdapat sekitar 2.346 kasus atau sekitar 53,5% dan dari urutan 10 penyakit terbanyak ternyata diare berada pada urutan yang kedua setelah penyakit ISPA. (Laporan SP2TP Pusk…………., 2011).

    1.2.      Rumusan Masalah

    Berdasarkan permasalahan tersebut maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah  ”Bagaimana pengaruh personal higiene, sanitasi lingkungan terhadap penyakit diare di Desa ……………………… Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh…………………. tahun 2011?”.

     

    1.3.      Tujuan Penelitian

    1.3.1        Tujuan umum

    Untuk mengetahui pengaruh personal higiene, sanitasi lingkungan terhadap penyakit diare di  Desa ……………………… Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat tahun 2011

    POLA PEMBERIAN MAKANAN BAYI DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN IBU DI DESA TEULADAN KECAMATAN KAWAY ……. KABUPATEN ……………… TAHUN 2011

    Posted in Uncategorized on f10,12 by B1L1

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

     

    1.1  Latar Belakang

    Anak merupakan generasi penerus suatu bangsa, di mana jika anak-anak sehat maka bangsa pun akan kuat dan sejahtera. Oleh karena itu, kita semua menaruh harapan agar anak-anak dapat tumbuh kembang sebaikbaiknya, sehingga menjadi orang dewasa yang sehat fisik, mental dan sosial. Dengan demikian dapat mencapai produktifitas sesuai dengan kemampuannya dan berguna bagi nusa dan bangsa (Soetjiningsih, 2002).

    Pada masa bayi pertumbuhan dan perkembangan berlangsung sangat cepat dan perkembangan otak telah mencapai 70% (Roesli, 2005). Selama 12 bulan pertama setelah kelahiran pertumbuhan berlangsung lebih cepat dibanding masa sesudahnya yaitu masa anak-anak, remaja maupun dewasa sehingga dikatakan masa bayi adalah masa paling rawan (Sediaoetama, 2003).

    Kebutuhan asuh diantaranya nutrisi yang mencukupi dan seimbang. Pemberian nutrisi secara mencukupi pada anak harus sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi yang cukup memadai pada ibu hamil. Setelah lahir, harus diupayakan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja sampai anak berumur 4-6 bulan (Nursalam, 2005).

    Makanan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan, kesehatan dan gizi, maka sejak dini anak harus diberi makanan yg bergizi agar pertumbuhan dan perkembangan otaknya berlangsung secara optimal. Asupan makanan bayi sangat dipengaruhi oleh ibunya, karena bayi belum dapat memilih makanannya sendiri, ibulah yang memilihkannya (Nadesul, 2005). Jumlah konsumsi makanan tambahan bayi sangat tergantung pada jumlah yang diberikan ibunya (Sunartyo, 2005).

    Makanan yang terbaik bagi bayi adalah air susu ibu (ASI). ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan bayi harus mulai diberi makanan tambahan, karena produksi ASI makin menurun dan ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi. (Roesli, 2005). Karena sejalan dengan bertambahnya umur bayi bertambah pula kebutuhan gizinya dan bayi memerlukan makanan yang lebih banyak untuk dapatmemnuhi kebutuhan zat-zat giziyang diperlukan bayi. (Aritonang, 1996)

    Pemberian makanan tambahan pada usia dini terutama makanan padat justru menyebabkan banyak infeksi, kenaikan berat badan, alergi pada salah satu zat gizi yang terdapat dalam makanan (Pudjiadi, 2003). Sedangkan pemberian cairan tambahan meningkatkan resiko terkena penyakit. Karena pemberian cairan dan makanan padat menjadi sarana masuknya bakteri pathogen. Bayi usia dini sangat rentan terhadap bakteri penyebab diare, terutama lingkungan yang kurang higienis dan sanitasi buruk.

    Bila pemberian makanan tambahan terlalu lambat mengakibatkan bayi kesulitan dalam belajar mengunyah, bayi tidak menyukai makanan padat dan bayi kekurangan zat gizi (Cott, 2003).

    Pemberian makanan bayi di Indonesia masih belum sesuai dengan umurnya masih banyak ibu yang memberikan makanan terlalu dini dan terlalu lambat kepada bayinya. Terdapat 32% ibu memberikan makanan tambahan kepada bayi yang berumur 2-3 bulan, seperti bubur nasi, pisang dan 69% terhadap bayi yang berumur 6-9 bulan pernah diberikan telur dan daging. (Latif, 2000).

    Salah satu faktor dalam menentukan pemberian makanan bagi bayi adalah tingkat pendidikan ibu. Tinggi rendahnya pendidikan ibu erat dikaitkannya dengan tingkat pengertiannya terhadap pemberian makanan bayi termasuk dalam memilih jenis dan jumlah makanan untuk bayinya dengan mempertimbangkan syarat gizi di samping mempertimbangkan faktor selera. (Suhardjo, 1990).

    Semakin tinggi pendidikan ibu semakin baik pemberian makanan bayinya. Pernyataan ini sesuai dengan hasil penelitian Kasnodiharjo,et,all yang dilakukan di jawa dan luar jawa bali. Pada ibu yang berpendidikan reatif tinggi yaitu SLTP ke atas 50,4 % yang memberikan makanan tambahan bayi < 4 bulan sedangkan ibu yang berpendidikan SD termasuk yang tidak sekolah memberikan makanan tambahan pada bayi < 4 bulan sebesar 53,9 persen.

    Menurut hasil penelitian Simanjuntak (1999) di Padang  bulan medan pada ibu yang berpendidikan tinggi lebih banyak memberikan makanan bayinya sesuai dengan pola pemberian makanan bayi (72,97 %) dari pada ibu yang berpendidikan rendah (40,0%). Sebaliknya pada ibu yang berpendidikan rendah lebih banyak memberikan makanan tidak sesuai dengan pola pemberian makanan bayi (60,0%) dari pada ibu yang berpendidikan tinggi (27,03%).

    Demikian juga di desa Teuladan Kecamatan ……………… Kabupaten Aceh Barat, berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan masih ada ibu-ibu yang memberikan makanan tambahan berupa pisang dan bubur beras pada bayi yang berusia 1 bulan dengan alasan bayi sering menangis karena masih lapar, selain itu ada juga yang belum memberikan makanan tambahan pada bayi berumur 7 bulan dengan alasan ASI masih cukup untuk kebutuhan bayinya.

    1.2  Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan ini adalah “Bagaimanakah pola pemberian makanan bayi ditinjau dari tingkat pendidikan, pengetahuan ibu di Desa Teuladan Kaway ……………… Kabupaten Aceh Barat Tahun 2011?”

    1.3 Tujuan penelitian

    1.2.1        Tujuan Umum

    Mengetahui pola pemberian makanan bayi ditinjau dari tingkat pendidikan, pengetahuan ibu di desa Teuladan Kecamatan …………………….. Kabupaten Aceh Barat  tahun 2011.

    1.3.2    Tujuan Khusus

    1. Mengetahui tingkat pendidikan ibu di desa Teuladan Kecamatan Kaway………… tahun 2011.
    2. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu di desa Teuladan Kecamatan Kaway….. tahun 2011
    3. Mengetahui ketepatan waktu pemberian makanan bayi di desa Teuladan Kecamatan Kaway….. tahun 2011.
    4. Mengetahui frekuensi pemberian makanan bayi di desa Teuladan Kecamatan Kaway……. tahun 2011.
    5. Mengetahui jenis makanan bayi di desa Teuladan Kecamatan Kaway……. tahun 2011.

    PENGARUH PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP SANITASI DASAR PERUMAHAN DI GAMPONG PADANG PANYANG KECAMATAN KUALA…………………………..

    Posted in Uncategorized on f10,12 by B1L1

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

     

    1.1      Latar Belakang

                Lingkungan permukiman dan perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia dan juga merupakan determinan kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan hampir separuh hidup manusia akan berada di rumah, sehingga kualitas rumah akan sangat berdampak terhadap kondisi kesehatannya (Depkes RI, 1999). Rumah seharusnya menjadi tempat yang bebas dari gangguan, rasa kebersamaan. Rumah yang sehat mampu melindungi dari panas dan dingin yang ekstrim, hujan dan matahari, angin, hama, bencana seperti banjir dan gempa bumi, serta polusi dan penyakit (Wicaksono, 2009).

                Dalam hidupnya, manusia membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal dan berinteraksi dengan manusia lainnya serta tempat berlindung dari segala macam gangguan. Sebagai tempat berlindung sebuah rumah harus memenuhi syarat kesehatan, untuk menunjang kehidupan manusia. Salah satu indikator rumah sehat menurut World Health Organization (WHO) adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 meter persegi perkapita.

                Rumah sehat menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2005), merupakan bangunan tempat tinggal yang memenuhi syarat kesehatan yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.

                Jika satu rumah tangga memiliki empat sampai lima anggota rumah tangga, maka rumahnya dikatakan sehat apabila memiliki luas minimal 40 sampai 50 meter persegi. Hasil Susenas tahun 2009 menunjukkan bahwa baru 43,72% rumahtangga di Provinsi Aceh menempati rumah dengan luas lantai 50 meter persegi atau lebih. (WHO, 2001)

                Selain luas lantai minimal, rumah juga harus memiliki fasilitas yang sangat dibutuhkan manusia untuk hidup. Dari hasil Susenas tahun 2009 dapat dilihat bahwa sebagian besar rumahtangga di Provinsi Aceh sudah mengkonsumsi air bersih yaitu sekitar 69,49 persen. Sumber air minum yang relatif bersih tersebut berasal dari leding, pompa, air kemasan, sumur terlindung dan mata air terlindung.

                Menurut WHO dalam Dalimunthe sanitasi didefinisikan sebagai pengawasan faktor-faktor dalam lingkungan fisik manusia yang dapat menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap perkembangan jasmani, maka berarti pula suatu usaha untuk menurunkan jumlah penyakit manusia sedemikian rupa sehingga derajat kesehatan yang optimal dapat dicapai. Sanitasi rumah adalah pengendalian dari faktor-faktor lingkungan fisik bangunan/gedung yang digunakan oleh manusia sebagai tempat berlindung, beristirahat serta untuk melakukan kegiatan lainnya, sehingga dapat menjamin kesehatan jasmani, rohani dan keadaan sosial serta kelangsungan hidup bagi penghuninya. (Prayitno, 1994).

                Menurut Notoatmodjo (2007), usaha kesehatan lingkungan merupakan suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar merupakan media yang baik untuk terwujudnya kesehatan optimum bagi manusia yang hidup didalamnya.

                Menurut Sonny P. Warrouw penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan. Lingkungan permukiman merupakan salah satu diantaranya yang selalu berinteraksi dengan manusia, karena kurang lebih separuh hidup manusia akan berada di rumah, sehingga kualitas rumah akan berdampak terhadap kondisi kesehatannya.

                Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat, disajikan dalam beberapa indikator yaitu persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan menurut cara pengobatan, persentase penduduk yang melakukan aktifitas fisik, dan kebiasaan mengkonsumsi jenis makanan sehat.

                Sedangkan indikator komposit  rumah tangga sehat terdiri dari  10 indikator yaitu persalinan oleh nakes, balita diberi ASI Eksklusif, mempunyai jaminan pemeliharan kesehatan, tidak merokok, melakukan aktifitas fisik setiap hari, tersedianya akses terhadap air bersih, tersedianya jamban, kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni dan lantai rumah bukan dari tanah. (Depkes RI, 2003).

                Berdasarkan laporan yang diperoleh dari Puskesmas Padang Panyang tahun 2008, diare yang merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan terdapat pada balita yang berumur 1-5 berjumlah 215 orang, Kasus ISPA sebanyak 2882 orang, serta kejadian TB Paru Klinis terdapat 24 kasus. Hal tersebut mengindikasikan bahwa eratnya hubungan lingkungan dan perilaku yang kurang sehat dengan kejadian penyakit (Laporan Puskesmas, 2008)………………………………………………………..contiue reading…links ……………………………

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.