MAKALAH PENILAIAN STATUS GIZI SEMESTER V

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas tinjauan kepustakaan ini tepat pada waktunya.

Kami menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini, baik dari isi maupun penulisannya. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan semua pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

19 Juli 2008

Penyusun

GIZI DAN OBESITAS ( MAKALAH PENILAIAN STATUS GIZI )

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Saat ini masalah kegemukan (overweight clan obesitas) di Indonesia ada kecenderungan meningkat seeara konsisten dan sudah dialami oleh kelompok penduduk usia muda. Masalah gizi tidak terlepas dari masalah makanan karena masalah gizi timbul sebagai akibat kekurangan atau kelebihan kandungan zat gizi dalam makanan. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang melebihi kecukupan gizi menimbulkan masalah gizi lebih yang terutama terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Dilain pihak empat masalah gizi kurang seperti gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), anemia gizi besi (AGB), kurang viatmin A(KVA), kurang energi protein (KEP) masih tetap merupakan gangguan khususnya di pedesaan.

Dengan meningkatnya taraf hidup sebagian masyarakat yang tinggal baik di perkotaan maupun di pedesaan akan memberikan perubahan pada gaya hidup. Pemilihan makanan yang cenderung menyukai makanan siap santap dimana kandungan gizinya tidak seimbang. Rata-rata makanan jenis ini mengandung lemak dan garam tinggi, tetapi kandungan serat yang rendah. Disamping itu masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan dimana pemenuhan kebutuhan makanan kurang sehingga timbul masalah gizi kurang. Jadi masalah gizi yang timbul, baik masalah gizi kurang maupun masalah gizi lebih sebenarnya disebabkan oleh perilaku makan seseorang yang salah yaitu tidak adanya keseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizinya.

Untuk mengatasi masalah gizi, pemerintah menggalakkan program perbaikan gizi antara lain melalui peningkatan mutu konsumsi pangan dan penganekaragaman konsumsi pangan. Disamping itu sasaran program perbaikan gizi juga ditujukan untuk menanamkan perilaku gizi yang baik dan benar sesuai dengan Pedoman Umum Gizi Seimbang (Kodyat, 1997).

PUGS merupakan acuan bagi setiap individu untuk berperilaku gizi yang baik dan benar sesuai dengan situasi dan kondisi kesehatan atau gizi seseorang dan lingkungannya (Rai, 1997). PUGS yang terdiri dari 13 pesan dasar, merupakan pedoman bagi setiap individu agar selalu mengkonsumsi makanan yang sehat, seimbang dan aman guna mempertahankan status gizi dan kesehatannya secara optimal.

B. TUJUAN

Untuk memberikan informasi kepada pemerintah dan masyarakat, bahwa dalam hal masalah pangan dan gizi, kita tidak hanya berhadapan dengan beban kemiskinan, gizi-kurang dan gizi-buruk, tetapi juga sudah mulai menghadapi masalah gizi-lebih, kegemukan segala konsekwensinya terhadap penyakit jantung, stroke dan sejenisnya. Masalah terakhir ini lebih komplek dan lebih mahal penanggulangannya. Selain itu juga diharapkan mulai ada upaya-upaya pencegahan terhadap masalah kegemukan ini di Indonesia seperti yang telah dilakukan di negara-negara tetangga. Dalam seminar tersebut juga dibahas upaya-upaya negara tetangga di Asia seperti Thailand, Malaysia dan Singapore, dalam mencegah bahaya kegemukan yang saat ini sudah merupakan masalah gizi utama di negara-negara tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Gizi seimbang

Sangatlah penting bagi kita untuk memilih apa yang kita makan setiap hari. Makanan tidak hanya berfungsi sebagai pengganjal perut tetapi lebih dari itu makanan adalah sebagai penghasil energi, penting untuk pertumbuhan juga mengatur metabolisme tubuh. Oleh karena itu sangat perlu bagi masyarakat untuk memahami perilaku yang baik untuk memilih bahan makanan yang akan dimakan yang sesuai dengan kebutuhan gizi yang seimbang.

Keadaan sosial ekonomi suatu keluarga sangat mempengaruhi permasalahan gizi yang timbul. Pada masyarakat yang kaya dan tinggal di daerah perkotaan, masalah yang ada adalah kelebihan gizi atau gizi lebih dimana akan memunculkan masalah kegemukan atau bahkan penyakit jantung, darah tinggi, kanker, stroke atau diabetes. Sedangkan pada masyarakat miskin masalah ketidakseimbangan gizi timbul akibat kekurangan gizi yang menimbulkan masalah penyakit infeksi misalnya diare atau penyakit lain yang diperparah akibat kurang gizi.

Apabila ke dua masalah gizi tersebut dalam jumlah yang besar, akan menjadi masalah masyarakat dan selanjutnya menjadi masalah bangsa. Masyarakat yang terdiri dari keluarga yang menyandang masalah gizi, akan menyandang masalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas rendah. Rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan tantangan berat dalam menghadapi persaingan bebas di era globalisasi.

Pendidikan gizi merupakan salah satu unsur yang terkait dalam meningkatkan status gizi masyarakat jangka panjang. Melalui penyampaian pesan-pesan gizi yang praktis akan membentuk suatu keseimbangan bangsa antara gaya hidup dengan pola konsumsi masyarakat. Pengembangan pedoman gizi seimbang baik untuk petugas maupun masyarakat adalah salah satu strategi dalam mencapai perubahan pola konsumsi makanan yang ada di masyarakat dengan tujuan akhir yaitu tercapainya status gizi masyarakat yang lebih baik.

B. Pengertian Gizi dan Masalah Osbessitas

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya.

Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria.

Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.

Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

  • Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
  • Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
  • Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%.
    Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk.

Dibanding pria, wanita lebih mudah mengalami kelebihan berat badan (obesitas). Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah fase hidup wanita yang berbeda dari pria. Kekurangan zat gizi saat dalam kandungan, haid dini, berat badan yang berlebihan ketika hamil, dan aktivitas fisik yang berkurang akibat menopause, mengakibatkan wanita rentan terhadap obesitas.

Angka kejadian kegemukan terus meningkat tajam dari tahun ke tahun, tidak hanya di negara-negara maju seperti Amerika dan negara-negara Eropa, tetapi juga di negara-negara berkembang seperti Indonesia dan negara-negara Asia. Bahkan suatu sumber mengatakan bahwa bumi kita sekarang ini lebih banyak dihuni orang dengan kelebihan lemak dibandingkan yang kelaparan.

Badan kesehatan dunia WHO menyebutkan, lebih dari satu miliar penduduk kelebihan berat badan. Angka ini melampaui 800 juta penduduk yang kekurangan gizi. Indonesia dari survei epidemiologi yang dilakukan di Jakarta tahun 1993 memperlihatkan peningkatan prevalensi kelebihan berat badan dari 4,2 persen menjadi 10,9 persen.

Pemantauan yang dilakukan oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat tentang masalah gizi lebih, sesuai kriteria WHO dengan menggunakan nilai metabolisme basal, kelebihan berat badan adalah suatu keadaan ditemukan adanya kelebihan lemak dalam tubuh.

  1. Resiko Osbesitas

Walaupun obesitas bukan merupakan penyakit menular, tetapi obesitas memiliki risiko morbiditas dan mortalitas terhadap beberapa penyakit seperti diabetes, dislipidemia, hipertensi, kardiovaskuler, bahkan ada peneliti lain mengatakan kemandulan bisa juga diakibatkan salah satunya adalah gangguan dari kelebihan berat badan. Karena itu, kelebihan berat badan lebih penting dilihat dari sisi risiko menderita penyakit bukan hanya dari sisi kosmetik saja.

Menurunkan berat badan dengan sendirinya akan memberikan manfaat bagi kesehatan tidak hanya fisik, namun juga mentalnya. Obesitas merupakan masalah yang kompleks. Selain terapi dengan obat-obat juga memerlukan bimbingan dan konseling gizi, perubahan perilaku/gaya hidup, peningkatan aktivitas fisik/olah raga dan terkadang konseling kesehatan jiwa sampai pembedahan,

Tentu saja biaya untuk itu cukup merogoh dompet kita dan dapat menimbulkan efek samping terutama pada pemakaian obat-obat pelangsing tanpa pengawasan dokter ahli seperti hipertensi, memperberat penyakit kardiovaskuler, hipertiroid, glaucoma, gelisah, berdebar-debar, malabsorbsi kronis dan masih banyak lagi. Sampai sekarang belum ada cara yang ampuh untuk menanggulangi masalah obesitas ini, dan dari penelitian dikatakan bahwa penggunaan obat-obat oral saja hanya dapat menurunkan 10 persen dari total berat badan.

  1. Apakah Kegemukan Menular ???

SAAT ini banyak cara ditawarkan untuk melangsingkan tubuh, mulai dari jamu gendong, program pelangsingan tubuh, sampai sedot lemak. Hal ini menunjukkan betapa kegemukan telah menjadi suatu masalah bagi masyarakat. Namun, ternyata banyak yang tidak berhasil karena kegemukan bukan suatu masalah yang sederhana.

Pada umumnya setiap orang mendambakan berat badan yang ideal, apalagi wanita. Namun, tidak sedikit juga yang memiliki masalah dengan kegemukan, bahkan sampai obesitas. Obesitas merupakan masalah yang mendunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Angka obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003 menyebutkan, di dunia lebih dari 300 juta orang dewasa menderita obesitas. Bahkan, di Amerika Serikat, sebanyak 280.000 orang meninggal setiap tahunnya karena obesitas.

Di Jakarta diperkirakan 10 dari 100 penduduk menderita obesitas. Biasanya kondisi ini menjadi pemicu penyakit-penyakit seperti jantung, artritis, diabetes tipe 2, serta tekanan darah tinggi.

Orang-orang yang punya masalah dengan obesitas cenderung disalahkan oleh masyarakat sebagai orang yang tidak memiliki semangat yang kuat untuk menurunkan berat badan (lack of will power). Selama ini faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab obesitas, antara lain, pola makan, kurang olahraga, kelainan metabolisme, serta faktor genetika.

* Faktor Genetika

Sejak hormon leptin ditemukan sepuluh tahun lalu, yaitu hormon pengontrol nafsu makan serta pengatur proses pembakaran lemak dalam tubuh, penelitian tentang gen-gen yang berperan dalam obesitas berkembang dengan pesat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan jumlah restoran-restoran “all you can eat” yang sekarang marak di mana-mana.

Paling tidak, sudah dua gen yang diteliti berasosiasi dengan obesitas, yaitu gen ob (obesity) yang memproduksi leptin, serta gen db (diabetic) yang memproduksi reseptor leptin. Leptin dihasilkan oleh sel-sel lemak, lalu dikeluarkan ke dalam peredaran darah. Saat leptin mengikat reseptor leptin yang berada di otak, maka terjadi proses penghambatan pengeluaran neuropeptida Y, di mana neuropeptida Y berpengaruh meningkatkan nafsu makan. Karena itu, apabila tidak ada leptin, nafsu makan menjadi tidak terkontrol.

Sejumlah orang yang memiliki masalah obesitas telah diteliti, dan ternyata mengalami mutasi, baik pada gen yang memproduksi leptin atau gen reseptor leptin, sehingga berpengaruh pada kontrol makanan dalam tubuh.

Dengan teknik rekayasa genetika, kloning gen leptin dari manusia ke dalam bakteri Escherichia coli telah dilakukan, dengan tujuan memproduksi leptin dalam jumlah besar. Percobaan pada tikus yang mengalami mutasi pada gen penghasil leptin menunjukkan adanya penurunan berat badan saat diberikan terapi dengan leptin. Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak semua orang yang menderita obesitas diakibatkan karena mutasi pada gen penghasil leptin. Jadi, tentu ada faktor lain yang ikut berperan.

** Infeksi virus

Penemuan Dr Nikhil Dhurandhar dari University of Wisconsin, Madison, berhasil membuka misteri lain dari obesitas di luar faktor genetika, yang selama ini dituduh menjadi penyebab utama obesitas. Ternyata obesitas bisa merupakan suatu penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus. Virus ini dapat mengakibatkan penumpukan lemak dalam tubuh sehingga disebut dengan virus lemak/fat virus.

Virus lemak pertama kali ditemukan pada ayam. Ayam yang terinfeksi virus lemak lebih gemuk dibandingkan dengan ayam yang tidak terinfeksi, hal lain, yang mengherankan kadar kolesterol serta trigliserida dalam darahnya lebih rendah dibandingkan dengan ayam normal. Keadaan yang sama juga terjadi pada manusia yang terinfeksi virus lemak.

Saat infeksi terjadi, virus lemak menyebar ke dalam darah dan sel-sel lemak, berikutnya virus memacu sel-sel lemak untuk mengambil kolesterol dan trigliserida dari dalam darah sehingga terjadi penumpukan pada sel-sel lemak. Itulah sebabnya pada orang yang terinfeksi, kadar kolesterol dalam darahnya menjadi lebih rendah dari orang normal. Penemuan ini telah dipublikasikan di International Journal of Obesity 2000.

Studi yang dilakukan terhadap ayam, tikus, dan monyet yang disuntik dengan virus lemak, menunjukkan peningkatan lemak dalam tubuh dengan kisaran 50-100 persen dibandingkan dengan hewan yang tidak disuntik virus walaupun diberikan porsi makanan yang sama.

Virus lemak merupakan kelompok Adenovirus-36. Sampai saat ini telah diketahui 50 jenis adenovirus manusia dan mengakibatkan penyakit-penyakit seperti radang otak, influenza, bahkan diare. Adenovirus biasanya dapat ditularkan lewat udara, kontak langsung, bahkan lewat air. Lalu apakah virus lemak (Adenovirus-36) dapat ditularkan dengan cara yang sama, hal ini masih memerlukan studi lebih lanjut untuk meneliti mekanisme infeksi dari virus lemak tersebut.

Survei terhadap sejumlah penderita obesitas di Amerika Serikat menunjukkan 30 persen di antaranya terinfeksi virus lemak, dan kadar kolesterol serta trigliserida dalam darahnya juga lebih rendah sebesar 35 mg, dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi. Penemuan ini merupakan suatu terobosan besar dalam bidang ilmu pengetahuan, dan mungkin bisa mengubah banyak hal dalam mengatasi obesitas. Walaupun tidak semua orang yang menderita obesitas diakibatkan karena infeksi virus, telah terbukti bahwa infeksi virus lemak berperan penting sebagai penyebab obesitas.

Dalam surat kabar Washington Post Agustus 2004, Asosiasi Obesitas Amerika melaporkan teknik laboratorium yang telah dikembangkan untuk mendeteksi virus lemak dari darah. Orang-orang yang terinfeksi virus lemak tidak menyadari adanya infeksi ini sampai dilakukan tes laboratorium, karena tidak adanya gejala klinis yang spesifik.

*** Mikro-organisme

Penemuan-penemuan terakhir tentang adanya kaitan antara mikro-organisme (bakteri, cendawan, virus) dan beberapa penyakit begitu mengherankan. Hal-hal yang semula dianggap tidak berkaitan dengan infeksi sekarang mulai terlihat berhubungan. Sebagai contoh: bakteri Chlamidia pneumoniae yang sebelumnya diketahui hanya menyebabkan infeksi saluran pernapasan ternyata juga dapat mengakibatkan penyakit jantung, begitu pula dengan cytomegalovirus (CMV).

Contoh lain adalah sakit mag yang selama ini dikenal disebabkan oleh stres, makanan pedas, atau produksi asam lambung yang berlebih, ternyata diakibatkan oleh bakteri >f 3002f 3001

Begitu pula dengan autisme. Penelitian terakhir menunjukkan infeksi bakteri Clostridium tetani berperan penting mengakibatkan terjadinya autisme. Artinya, penyakit-penyakit yang selama ini diduga berhubungan dengan faktor fisiologi ataupun metabolisme tubuh ternyata diakibatkan oleh infeksi mikroorganisme.

Kembali ke obesitas, apabila nanti telah terbukti sebagian besar obesitas diakibatkan infeksi virus lemak, maka tantangan ke depan yang perlu dilakukan adalah mendesain vaksin untuk mengatasi serangan virus lemak.

  1. PENTINGNYA MEMANTAU BERAT BADAN

Pembangunan Sumber Daya manusia (SDM) merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional. Perhatian utama adalah untuk mempersiapkan dan meningkatkan kualitas penduduk usia kerja agar benar-benar memperoleh kesempatan serta turut berperan dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan hal tersebut adalah pembangunan dibidang kesehatan dan gizi.
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masa penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerjanya. Oleh karena itu pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan oleh setiap orang secara berkesinambungan.
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang.
Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang dianjurkan untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan penerapan hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat.

  1. IMT Sebagai alat pemantau berat badan

Dengan IMT akan diketahui apakah berat badan seseorang dinyatakan normal, kurus atau gemuk. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:
Berat Badan (Kg)
IMT = ——————————————————-
Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)
Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Disebutkan bahwa batas ambang normal untuk laki-laki adalah: 20,1–25,0; dan untuk perempuan adalah : 18,7-23,8. Untuk kepentingan pemantauan dan tingkat defesiensi kalori ataupun tingkat kegemukan, lebih lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas pada perempuan untuk kategorigemuk tingkat berat. Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalam klinis dan hasil penelitian dibeberapa negara berkembang. Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:
* Kategori IMT
Kurus
Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,4
Normal 18,5 – 25,0
Gemuk
Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1 – 27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0
Jika seseorang termasuk kategori :
1.IMT < 17,0: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan tingkat berat atau Kurang Energi Kronis (KEK) berat.
2.IMT 17,0 – 18,4: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan tingkat ringan atau KEK ringan.
Contoh cara menghitung IMT:
Eko dengan tinggi badan 148 cm, mempunyai berat badan 38 kg.
38
——————– = 17,3
(1,48 X 1,48) m
Status gizi Eko adalah kurus tingkat ringan. Eko dianjurkan menaikkan berat badan sampai menjadi normal antara 41- 54 kg dengan IMT 18,5 – 25,0.

** PERHATIAN !
Seseorang yang termasuk kategori kekurangan berat badan tingkat ringan (KEK ringan) sudah perlu mendapat perhatian untuk segera menaikkan berat badan.
3.IMT 18,5 – 25,0 : keadaan orang tersebut termasuk kategori normal.
4.IMT 25,1 – 27,0 : keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat ringan.
5.IMT > 27,0 : keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat berat

Contoh cara menghitung :
Opong dengan tinggi badan 159 cm, mempunyai berat badan 70 kg. Maka IMT Opong adalah :
70 70
——————– = ——– = 27,7
(1,59 X 1,59) m 2,53
Berarti status gizi Opong adalah gemuk tingkat berat, dan Opong dianjurkan menurunkan berat badannya sampai menjadi 47- 63 kg agar mencapai berat badan normal (dengan IMT 18,5 – 25,0).
*** PERHATIAN !
Seseorang dengan IMT > 25,0 harus berhati-hati agar berat badan tidak naik. Dianjurkan untuk menurnkan berat badannya sampai dalam batas normal.
**** BADAN ANDA KURUS ?
Penyebab
Karena konsumsi energi lebih rendah dari kebutuhan yang mengakibatkan sebagian cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan digunakan.
Kerugian
1.Penampilan cenderung kurang menarik
2.Mudah letih
3.Resiko sakit tinggi, beberapa resiko sakit yang dihadapi antara lain : penyakit infeksi, depresi, anemia dan diare.
4.Wanita kurus kalau hamil mempunyai resiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.
5.Kurang mampu bekerja keras.
***** Cara Menaikkan Berat Badan
1.Makanlah secara teratur 3 kali sehari dengan gizi seimbang
2.Makanlah lebih banyak makanan sumber energi dan protein dari biasanya seperti roti, nasi, umbi-umbian, ikan, daging, tempe, tahu.
3.Tetap berolahraga secara teratur
4.Cukup istirahat
Perlu diketahui
Seseorang yang termasuk dalam kategori kurus dapat disebabkan oleh penyakit tertentu. Oleh kaena itu dianjurkan ntuk memeriksakan kesehatannya pada tenaga medis.
Tips
Agar dapat memantau IMT dengan baik, timbanglah berat badan anda secara teratur.
****** BERAT BADAN ANDA NORMAL ?
Bisa diwujudkan dengan mengkonsumsi energi sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan tubuh, sehingga tidak terjadi penimbunan energi dalam bentuk lemak, maupun penggunaan lemak sebagai sumber energi.
Keuntungan
1.Penampilan baik.
2.Lincah
3.Resiko penyakit rendah.
Cara Mempertahankan Berat Badan Normal
1.Pertahankan kebiasaan makan sehari-hari dengan susunan menu gizi seimbang.
2.Pertahankan kebiasaan olah raga yang teratur dan tetap melakukan
3.Kebiasaan fisik sehari-hari

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Kelambanan Indonesia menangani masalah gizi makro dalam bentuk gizi kurang dan gizi buruk menurut pendapat saya ada kaitannya dengan kebijakan program gizi kita yang masih mengedepankan pangan, makanan dan konsumsi sebagai penyebab utama masalah gizi. Kebijakan ini cenderung mengabaikan peran faktor lain sebagi penyebab timbulnya masalah gizi seperti air bersih, kebersihan lingkungan dan pelayanan kesehatan dasar. Akibatnya program gizi lebih sering menjadi program sektoral yang masing-masing berdiri sendiri dengan persepsi berbeda mengenai masalah gizi dan indikatornya. Kebijakan ini dalam makalah ini saya sebut sebagai kebijakan dengan paradigma input.
Salah satu kelemahan paradigma input bagi program perbaikan gizi adalah digunakannya indikator agregatif makro seperti persediaan energi dan protein perkapita. Indikator ini tidak dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya diri individu anggota keluarga terutama anak dan wanita. Paradigma ini tidak mengenal indikator pertumbuhan anak dan status gizi yang mengukur “the real thing”.
Sudah saatnya indikator pertumbuhan dan status gizi anak menjadi salah satu indikator kesejahteraan. Untuk itu program gizi memerlukan pendekatan paradigma baru, yang didalam makalah ini saya namakan paradigma outcome. Dengan paradigma ini beberapa hal dibawah ini memerlukan perhatian lebih besar dalam program gizi .

  1. Saran – saran

dalam menangani masalah gizi makro, khususnya kurang energi protein, titik tolak kebijakannya terletak pada adanya pertumbuhan dan status gizi anak yang tidak normal. Dengan demikian tujuan program adalah memperbaiki pola pertumbuhan anak dan status gizi anak dari tidak normal menjadi normal atau lebih baik.

secara bertahap perlu ada “perombakan” kurikulum di lembaga pendidikan tenaga gizi di semua tingkatan untuk lebih memahami perlunya paradigma baru yang berorientasi pertumbuhan dan status gizi anak sebagai titik tolak dan tujuan program.

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

  1. Gabr, M. 2001. IUNS in the Twenty Century on the shoulders of the Twentieth Century giants of Nutrition. VIIth International Congress of Nutrition 27-29 Agustus 2001.
  2. WHO.2000.Nutrition for Health and Development.WHO, Geneva;
  3. Departemen Kesehatan. 2001. Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005
  4. Web : http://www.gizi.net dan linknya.
  5. Carriere, R.C. 2000. Revitalizing and Optimizing Posyandu. Growth Monitoring and promotion. Makalah. Unicef. Jakarta.
About these ads

2 Tanggapan to “MAKALAH PENILAIAN STATUS GIZI SEMESTER V”

  1. RUSSI FRASTIA Says:

    ass…mo minta keterangan tentang PENILAIAN STATUS GIZI SECARA MENYELURUH yang mencakup METODE PSG, ANTROPOMETRI GIZI, PSG SECARA KLINIS, PSG SECARA BIOKIMIA, & SURVEI KONSUMSI MAKANAN…Mksh y…cz bth bgt untuk tgs makalah ilmu gizi q…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: