HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG GIZI DENGAN TUMBUH KEMBANG BALITANYA DI TAMAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI KECAMATAN…………………………………………………………..

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya  membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin sejak anak  masih dalam kandungan. Upaya kesehatan yang dilakukan sejak anak  masih di dalam kandungan sampai 5 tahun pertama kehidupannya, ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sekaligus  meningkatkan kualitas hidup anak agar mencapai tumbuh kembang  optimal baik fisik, mental, emosional,  maupun sosial serta memiliki  intelegensi majemuk sesuai dengan potensi genetiknya (Depkes. 2007).

Pertumbuhan dan perkembangan anak secara fisik, mental, sosial, emosional dipengaruhi oleh gizi, kesehatan dan pendidikan. Ini  telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian, diantaranya  penelitian longitudinal oleh Bloom mengenai kecerdasan yang menunjukkan bahwa kurun waktu 4 tahun pertama usia anak, perkembangan kognitifnya mencapai sekitar 50%, kurun waktu 8 tahun  mencapai 80%, dan mencapai 100% setelah anak berusia 18 tahun (Saidah, E.S.2003).

Penelitian mengenai kecerdasan otak menunjukkan fakta  bahwa untuk  memaksimalkan  kepandaian seorang anak, stimulasi harus dilakukan sejak 3 tahun pertama dalam kehidupannya mengingat pada usia tersebut jumlah sel otak yang dipunyai dua kali lebih banyak dari sel-sel otak orang dewasa      (Oberlander, J.R. 2003).

Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar 10% dari seluruh populasi, maka sebagai calon generasi penerus  bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapat  perhatian serius yaitu mendapat gizi yang baik, stimulasi yang  memadai serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas  termasuk deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya dan mampu bersaing di era global (Depkes. 2007).

Upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas harus di mulai sejak awal kehidupan, yaitu pada masa janin dan balita. Pada masa ini pemenuhan kebutuhan gizi sangat menentukan kualitas seseorang dalam proses tumbuh kembang selanjutnya. Kesehatan, mutu hidup rendah, produktifitas tenaga kerja rendah, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang (Djaeni AS. 2003).

Menurut sensus WHO 2008 menunjukkan 49 % dari 10,4 juta kematian yang terjadi pada anak dibawah lima tahun di negara berkembang. Kasus kekurangan gizi tercatat sebanyak 50 % anak-anak di Asia, 30 % anak-anak Afrika, dan 20 % anak-anak di Amerika Latin (Depkes. 2009).

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, masih sekitar 18,4 % balita dengan berat  badan kurang, 13,6 % balita kurus dan 36,8 % balita pendek. Gizi buruk merupakan akibat dari kekurangan gizi tingkat berat yang bila tidak ditangani dengan cepat, tepat dan komprehensif dapat mengakibatkan kematian (Depkes. 2009).

Data dari Departemen Kesehatan menyebutkan pada 2007 masalah gizi masih terjadi di 77,3% kabupaten dan 56% kota di Indonesia. Data tersebut juga menyebutkan bahwa pada 2008 sebanyak lima juta anak balita (27,5%) kurang gizi dimana 3,5 juta (19,2%) diantaranya berada pada tingkat gizi kurang dan 1,5 juta (8,3%) sisanya mengalami gizi buruk.

Prevalensi balita gizi kurang di Provinsi Aceh berdasarkan hasil pemantauan status gizi tahun 2009 adalah sebesar 10,17% dan balita gizi buruk sebesar 4,67% terjadi penurunan bila dibandingkan dengan data tahun 2007 yaitu sebesar 15,2%  dan 3,9% untuk katagori yang sama (Dinkes Provinsi Aceh, 2009).

Berdasarkan pemantauan status gizi di Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2009, didapatkan balita yang termasuk dalam status gizi buruk sebanyak 5.33 %, gizi kurang sebanyak 15,61%, gizi baik 77,46 %, dan gizi lebih 1,61 %. Status  gizi ini menggunakan indeks BB/U, sedangkan menurut indeks BB/TB diperoleh balita :  sangat kurus sebanyak 4,67 %, kurus 10,17% normal 80,82 % dan Gemuk 4,35 %, dengan Jumlah balita yang ditimbang sebanyak 1557 balita dari usia 0-59 bulan (Dinas Kesehatan Aceh Barat. 2009)…..continue..reading……links….

About these ads

Satu Tanggapan to “HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG GIZI DENGAN TUMBUH KEMBANG BALITANYA DI TAMAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI KECAMATAN…………………………………………………………..”

  1. Hi there, everything is going nicely here and ofcourse every one
    is sharing data, that’s actually good, keep up writing.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: