MAKALAH WARIA

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang

 

Waria (portmanteau dari Wanita-pria) atau wadam (dari hawa-adam) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafroditisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan.

“Kami tak pernah meminta dilahirkan sebagai waria”. Bagi Waria, dengan mendandani diri seperti perempuan, ia mendapatkan kenikmatan batin yang begitu dalam. Ia seolah berhasil melepas beban psikologi yang selama ini masih memberatkannya.

Waria, menurut Pakar Kesehatan Masyarakat dan pemerhati waria dr Mamoto Gultom, adalah subkomunitas dari manusia normal. Bukan sebuah gejala psikologi, tetapi sesuatu yang biologis. Kaum ini berada pada wilayah transgender: perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki.

Kenapa orang bisa menjadi waria, menurut Guru besar psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan

boleh jadi pada diri laki-laki terdapat sisi feminin yang Allah anugerahkan. Tapi nggak lantas dengan alasan itu, laki-laki dibolehkan jadi waria. Nggak sobat. Karena pada hakikatnya, seperti penuturan Prof. Dr. Koentjoro, kecenderungan menjadi waria lebih diakibatkan oleh salah asuh atau pengaruh lingkungan sekitarnya. Bukan penyakit turunan atau karena urusan genetik.

 

  1. Visi dab Misi
  1. Visi

Membantu, mendukung dan mengarahkan waria menjadi individu dan kelompok yang percaya diri dan mempunyai pola pikir yang positif, sehingga menjadi individu dan kelompok yang mandiri dan berdaya baik di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi.

  1. Misi

Kami percaya bahwa dengan adanya Bacaan seprti ini akan sangat bermanfaat untuk Waria. dalam meminimalkan stigma dan diskriminasi,mendapatkan dukungan psikologis, mengakses layanan kesehatan, layanan ekonomi dan sosial.

 

  1. Tujuan

Untuk membantu dan memfasilitasi Waria dalam meminimalkan stigma dan diskriminasi, mendapatkan dukungan psikologis, mengakses layanan kesehatan dan layanan sosial yang diperlukan melalui kegiatan pertemuan kelompok dan masyarakat serta pemerintah ,peningkatan kapasitas individu dan kelompok,membuka akses layanan kesehatan,membuka akses layanan sosial dan ekonomi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Waria Di Tinjau dari segi hubungannya dengan social masyarakat

 

Maraknya kampanye legalisasi keberadaan waria menunjukkan gencarnya serangan budaya Barat ke negeri kita. Hal ini berdampak pada dua hal:

Pertama, setelah keberadaan mereka dipopulerkan televisi dalam sinetron atau iklan komersil, masyarakat jadi penasaran pengen tahu banyak dengan kehidupan waria. Dari asal-usulnya, suka-dukanya, kesehariannya, sampe masa depan mereka. Liputan tentang diskriminasi terhadap waria dikemas sedemikian rupa untuk memancing emosi dan perasaan kasian pemirsa. Ujung-ujungnya, informasi seputar waria yang disuguhkan lebih diarahkan kepada legalisasi waria di mata masyarakat.

Media mampu menyulap kebiasaan yang salah menjadi sesuatu yang lumrah. Waria dijadikan produk hiburan. Dengan cara bicaranya yang kemayu, keluar deh tuh kata-kata asing khas kamus gaulnya Debby Sahertian yang mengundang gelak tawa. Cara berdandannya juga rada-rada unik. Wajah dipoles sana-sini pake kosmetik biar tampak cantik. Meski hasilnya lebih sering bikin yang ngeliat cekakak-cekikik.

Dan akhirnya, terjadi pergeseran sudut pandang dan sikap kaum Muslimin terhadap keberadaan waria. Kita seperti nggak punya pilihan untuk mengatakan kalo perilaku mereka itu keliru. Yang ada, kita dikasih pilihan untuk cuek bebek atau mendukung. Sebab dalam kehidupan sekuler yang banyak diopinikan media, kebebasan dalam berperilaku adalah hak individu yang nggak bisa diganggu gugat. Dan menjadi waria, merupakan salah satu ekspresi kebebasan yang dimaksud. Kalo ada yang nggak setuju? Ya, dilarang dengan keras untuk ngerecokin. Termasuk nggak boleh aktif mengingatkan waria untuk kembali ke jalan yang benar. Apalagi sampai melarang atau memvonis bersalah. Bisa-bisa berurusan ama aparat karena dianggap mengganggu kebebasan orang lain.

Kedua, maraknya ekspos media terhadap waria menjadi cara yang jitu yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kampanye penerapan syariat Islam yang tengah gencar di berbagai daerah di nusantara ini. Aktivitas amar makruf nahyi munkar pun terlupakan. Masyarakat semakin cuek dengan berbagai permasalahan yang muncul akibat diterapkannya sistem sekuler. Jika dibiarkan, boleh jadi negeri kita akan semakin liberal dan mungkin suatu saat nanti legalisasi perkawinan sejenis nggak cuma terjadi di Belanda, Spanyol atau Kanada. Tapi juga di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

  1. Waria di Tinjau dari sudut padang Agama

Sampai kiamat pun Islam tidak akan pernah mentoleransi keberadaan waria di tengah masyarakat. Meski media massa tertentu mengopinikan kalo menjadi waria itu bagian dari kodrat, Islam tetap melihatnya sebagai perilaku maksiat.

Aturan hidup sekuler telah memanjakan manusia untuk berbuat semau gue. Penyaluran yang salah dari potensi yang dimiliki manusia dalam peradaban Barat lebih populer dibanding cara yang benar. Makanya tidak heran kalo gaya hidup free sex, homoseks, lesbian, atau waria merajalela di Eropa. Sebab mereka pikir lebih baik mati-matian mereguk kepuasan dunia daripada setengah hidup menahan hasrat demi kehidupan akhirat.

Dan baru-baru ini terdengar kabar di beberapa negara Eropa seperti di Belanda, Belgia, Spanyol, dan Kanada, pemerintahnya melegalkan perkawinan sejenis. Seolah melestarikan keberadaan kaum homoseks dan lesbian. Padahal lebih dari 500.000 umat Katolik berkampanye didukung sekitar 20 uskup senior untuk menentang hukum baru di Spanyol yang mengesahkan perkawinan sesama jenis. Tapi tetep aja pemerintah Spanyol nggak menggubris larangan itu.

Di sinilah pentingnya kita kembali kepada aturan Islam sebagai jalan kebaikan yang udah dijamin keselamatan dunia-akhirat oleh Allah Swt. Dalam kasus waria, Islam mengajarkan agar orang tua mendidik anaknya sesuai dengan kodratnya. Perlahan-lahan diperkenalkan hukum-hukum Islam sesuai dengan jenis kelaminnya. Ketika beranjak dewasa, diajarkan untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis.

Dan peran negara dalam hal ini, membentuk lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak sesuai dengan kodratnya. Di antaranya dengan mencegah masuknya peradaban Barat yang rusak melalui media massa cetak dan elektronik. Kalo masih ada yang nekat berperilaku waria, mereka kudu berhadapan dengan aturan Islam yang diterapkan negara. Mereka bakal terkena sanksi yang ditentukan oleh khalifah (ta’jir). Bisa berupa karantina di balik jeruji besi sambil diberikan nasihat agar tobat dan tidak mengulanginya lagi

Saat ini, sikap terbaik yang kudu kita tunjukkan terhadap waria bukanlah dengan kebencian, tapi cinta. jangan salah. Wujud cinta kita adalah dengan mengajak para waria untuk meninggalkan statusnya.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Waria di tinjau dari sudut padang kesehatan

Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 34 persen waria di Jakarta positif mengidap HIV, virus yang mengakibatkan sindrom penurunan ketahanan tubuh (AIDS).

Angka ini terus naik sejak tahun 1995 yang hanya 0,3 persen, lalu di tahun 1996 menjadi 3,2 persen, dan enam persen di tahun 1997. Prevalensi HIV pada waria di Jakarta pada tahun 2002 melonjak jadi 21,7 persen, tahun 2005 naik hingga menjadi 25 persen, dan tahun 2007 ditaksir sampai di titik 34 persen.

Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah waria di Indonesia pada tahun 2006 adalah 20.960 hingga 35.300 orang.

Sementara itu STBP 2007 memperkirakan prevalensi HIV di kalangan waria di Bandung adalah 14 persen dan di Surabaya 25,2 persen.

“Temuan ini perlu mendapat perhatian khusus karena termasuk angka prevalensi yang tertinggi di Asia dalam tahun-tahun terakhir,” kata Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan.

Dalam temuannya, STBP 2007 juga menyebutkan mayoritas waria menjual seks kepada pelanggan pria, banyak waria juga memiliki pasangan tetap priayang non-komersial.

Pemakaian kondom konsisten selama seks anal pada waria tetap tidak memadai dan sejumlah besar waria baru-baru menerima layanan konseling dan uji HIV.

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Sampai kiamat pun Islam tidak akan pernah mentoleransi keberadaan waria di tengah masyarakat. Meski media massa tertentu mengopinikan kalau menjadi waria itu bagian dari kodrat, Islam tetap melihatnya sebagai perilaku maksiat.

Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 34 persen waria di Jakarta positif mengidap HIV, virus yang mengakibatkan sindrom penurunan ketahanan tubuh (AIDS).

 

  1. B.     Saran – saran

 

Untuk menghindari dampak negative dari waria dan penyimpagan sex lainya , maka kita harus secara dini menangulangi nya baik dari segi kesehatan maupun dari segi agama, oleh karma itu dukungan,dalam hal ini dukungan keluarga dan dukungan pemerintah sangat diharapakan,supaya dampak tersebut dapat di minimalisirkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. www.waspada.co.id/index.php?…id…wariaislam
  2. www.eramuslim.com
  3. www.lintasberita.com/all/entertain/Hukum_Waria_dalam_Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Kami menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini, baik dari isi maupun penulisannya. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan semua pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan

 

 

 

 

Penulis

MAIDAWATI,SKM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: