PENELITIAN AMDAL FKM

mau-ku-edit-6BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Bencana alam Gempa danTsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 lalu di Provinsi NAD Kabupaten Nagan Raya. bukan saja merusak infrastruktur, permukiman, sarana dan prasarana publik, tapi juga mengambil korban jiwa manusia yang sangat banyak serta rusaknya ekosistem pesisir seperti terjadinya intrusi air laut dan endapan Lumpur ke darat, hancurnya terumbu karang dan tercabutnya beberapa vegetasi pesisir,berubahnya garis pantai dan morfologi lahan basah. Kerusakan bio-fisik tersebut pada akhirnya menyebabkan rusaknya berbagai tatanan penghidupan sosial, ekonomi-budaya masyarakat di kawasan ini.

Upaya merehabilitasi dan merekonstruksi kawasan yang hancur ini, bukanlah pekerjaan yang mudah, sederhana dan singkat. Pekerjaan ini membutuhkan komitmen yang kuat dari semua pihak, perencanaan yang matang dan tepat, serta dana yang sangat besar. Pekerjaan ini membutuhkan waktu yang panjang dan dalam pelaksanaannya memerlukan kajian-kajian multi dimensi seperti sosial, ekonomi, budaya, lingkungan dan lain sebagainya yang terintegrasi dalam perencanaan maupun pelaksanaannya.

Salah satu program rehabilitasi dan rekonstruksi kelautan dan perikanan pasca bencana

di NAD adalah Green Coast & Pegembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir (Nelayan) Program yang merupakan kerjasama Pemerintah Pusat & Daerah serta beberapa dukungan dari Lembaga swadya Masyarakat Internasional Program ini bertujuan untuk melindungi keunikan ekosistem pesisir dan memperbaiki mata pencaharian penduduk pesisir. Target dari kegiatan ini memperbaiki fungsi-fungsi ekologis daerah pesisir dan menyediakan mata pencaharian yang berkelanjutan bagi penduduk pesisir di daerah yang terkena tsunami. Diharapkan melalui program ini, tidak hanya kondisi alam pantai yang rusak terehabilitasi, tetapi juga tersedianya mata pencaharian yang baru atau telah diperbaharui bagi masyarakat serta pemanfaatan sumber daya berbasis dimana masyarakat termasuk perempuan terlibat aktif dalam perencanaan dan pengelolaan

  1. Metodelogi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Nagan Raya  selama 1 (satu) hari mulai tanggal 19 Januari 2009. Wilayah penelitian ini meliputi 2 ( dua ) Kecamatan yaitu Kecamatan Kuala Pesisir dan Kecamatan Tadu Raya, penelitian ini juga membandingkan dua TPI yang masing – masing terdapat di wilayah itu yaitu TPI Kuala Tuha dan TPI Tadu Raya.

  1. Sampling ( Pengumpulan Data )

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode explorative survey dimana team peneliti terjun secara langsung ke lokasi-lokasi tempat dimana nelayan terkonsentrasi. Untuk mengumpulkan data digunakan metode wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) dengan berpedoman kepada beberapa pertanyaan mendasar yang akan dikembangkan sesuai dengan kondisi responden (participatory). Responden dipilih secara acak dari sejumlah nelayan yang berhasil dikumpulkan pada waktu yang bersamaan.

Sebagaimana diketahui bahwa disamping nelayan penangkap juga terdapat nelayan budidaya, nelayan pengumpul, dan nelayan pembuat garam. Biasanya nelayan penangkap ikan sering berkumpul di daerah kuala atau TPI, sedangkan nelayan budidaya sering dijumpai di areal pertambakan, sedangkan nelayan pengumpul kadang dijumpai di daerah kuala atau muara sungai dimana biasanya TPI didirikan dan di areal tambak, sedangkan nelayan pembuat garam mudah dijumpai di lancang-lancang garam mereka.

Untuk dapat mewakili kondisi ini maka, setiap komponen nelayan ini perlu ditemui dan diwawancarai untuk mengetahui pendapat dan pandangan mereka dalam kaitan dampak tsunami terhadap kehidupan baik sosial, ekonomi maupun ekologi dan usaha-usaha rehabilitasinya. Oleh karena tempat tinggal atau berkumpul mereka yang agak berbeda, maka terlebih dahulu perlu diketahui dimana daerah-daerah tersebut berada sebelum team terjun ke lapangan.

  1. Analisis Data

Data yang diperoleh selanjutnya ditabulasi dan disajikan dalam bentuk gambar, grafik atau tabel dan selanjutnya dianalisis secara diskripsi dengan bepedoman kepada laporan-laporan terdahulu dan data sekunder lainnya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Maksud Dan Kegunaan Amdal

Maksud pekerjaan penyusunan AMDAL adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi kegiatan proyek pada beberapa tahap antara lain: Pra konstruksi, Konstruksi, Operasi dan pasca operasi, terutama pada aspek yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan;

2. mengidentifikasi rona awal terkait dengan area kegiatan proyek baik di tapak proyek maupun disekitar lokasi proyek;

3. memperkirakan dan mengevaluasi dampak penting dan timbal balik antara lingkungan dengan kegiatan proyek,

4. menyusun Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan.

Kegunaan Studi :

  1. membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan rencana proyek;
  2. memberi masukkan untuk penyusunan desain rinci proyek berkaitan dengan peralatan pengelolaan dan pelindungan lingkungan;
  3. menjadi arahan bagi pemrakarsa dalam melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan;
  4. memberi informasi kepada masyarakat dan pihak yang terkait mengenai rencana kegiatan.

Ruang lingkup studi AMDAL yang harus dilaksanakan meliputi: pekerjaan persiapan; pengumpulan data; deskripsi kegiatan; informasi rencana kegiatan kepada masyarakat; pengumpulan data sekunder; kajian kualitas udara dan tingkat kebisingan; kajian kualitas air; kajian biologi (flora dan fauna); kajian sosial-ekonomi & budaya, kajian kesehatan masyarakat; penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA ANDAL), Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), dan Ringkasan Eksekutif AMDAL yang telah disetujui instansi berwenang

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006

2. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002

3. Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006

4. Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008

B. Gambaran Umum Tempat Pendaratan&Pelelangan Ikan Kuala Tuha

** Nama Industri : Tempat Pendaratan & Pelelangan Ikan Kuala Tuha

Tempat Pendaratan & Pelelangan Ikan( TPI ) ini terletak di sebuah Desa/Gampong dalam Kabupaten Nagan Raya Kecamatan Kuala Pesisir, dengan status industri BUMD ini sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai Nelayan Tradisional ini sangat bergantung pada keadaan ekosistem laut, selain dari profesi mencari ikan mereka juga bercocok tanam dengan cara yang tradisional, dengan hasil komoditi ungulan di bidan pertanian, jagung, kacang tanah, kedelai sedangkan hasil komoditi terbesar di bidang perkebunan adalah kelapa sawit, dan kelapa.

Gambar 1 : Mahasiswa/I Fakultas kesehatan Masyarakat melakukan study banding ke TPI tersebut

Gambar 2 : Mahasiswa FKM ( VI ) sedang melakukan koordinasi lapangan

gambar 3 : mahasiswa/I sedang melakukan wawancara dengan salah satu penangung jawab tempat tersebut

Salah satu kegiatan mahasiswa/I Fakultas Kesehatan Masyarakat di penghujung tahun 2008 adalah melakukan Survey di TPI kuala ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana dampak keuntungan dan kerugian yang di timbulkan oleh kegiatan tersebut, dan mengetahui sejauh mana Pemerintah Daerah terlibat dalam masyarakat baik dalam perbaikan system perekonomian rakyat, dan sejauh mana pemerintah peduli terhadap dampak lingkungan yang di timbulkan oleh manusia TPI Kuala Tuha mulai beroperasi pada tahun 2007 s/d 2009 dengan penangung jawab koordinasi Bapak Samsul Bahri tersebut mempunyai Tenaga kerja 20 orang ( Tenaga kerja tetap ) mereka rata – rata berpendidikan SLTP dan SMU ini rata berumur 30 s/d 40 tahun ini asli penduduk pribumi yang berdomisili di Dearah tersebut.

Gambar 4 : Meneliti salah satu tempat air bersih yang tidak tepat guna, seharusnya air bersih ini dipakai oleh masyarakat untuk keperluan sehari – hari dalam kehidupan, berubah menjadi suatu tempat perkembangbiakan penyakit yang dapat merugikan masyarakat yang tinggal di area tersebut

Salah satu sarana yang yang di bangun oleh Pemerintah setempat untuk kepentingan penyediaan air bersih dan peningkatan derajat kesehatan namun tidak terpakai dengan semestinya

Gambar 5 : Sedang memperhatikan beberapa sudut dari TPI tersebut

Gambar 6 : Dooking Boat yang tidak terpakai

Masih banyak sekali prasarana yang tidak berfungsi dengan semestinya di TPI tersebut, gambar di atas memperlihatkan salah satu tempat untuk pendaratan atau tempat dimana Boat nelayan yang Rusak di perbaiki.

Gambar 7 : Salah satu sudut dari TPI tersebut yang dapat membahayakan atau dapat berkembangnya penyakit

Gambar 8

Gambar 9 : Tempat Pembuagan Tinja yang sudah tidak Safety bagi lingkungan

Gambar 10 : sanitasi lingkungan yang sangat kurang di perhatikan

Gambar 11

C. Hasil Produksi TPI Kuala Tuha

Gambar 12 dan 13 : memperlihatkan hasil produksi dari TPI tersebut

D. Hasil dari Wawancara di TPI Kuala Tuha Kecamatan Kuala Pesisir

Kecamatan Kuala Pesisir merupakan salah satu kecamatan yang masuk dalam Kabupaten Nagan Raya. Secara geografis terletak di jalur lintas Nagan Raya dan Meulaboh ( Aceh Barat ) Pusat kegiatan perikanan di Kecamatan Kuala Pesisir berada di Desa Kuala Tuha di sini terdapat sebuah TPI.

Lokasi TPI terletak lebih kurang 1 KM dari jalan besar Meulaboh – Medan, dan ekses ke lokasi tergolong mudah dengan badan jalan sudah cukup baik. Selain nelayan tangkap di sini juga terdapat berbagai hasil Industri Rakyat lainnya.  Kawasan Kuala Tuha merupakan salah satu daerah yang cukup parah terkena tsunami terutama dalam radius 1 km dari bibir pantai.

Kegiatan perikanan yang dominan di Desa Kuala Tuha, Kecamatan Kuala Pesisir adalah penangkapan ikan. Sebelum tsunami terdapat tidak kurang 35-40 boat penangkapan ikan di sini, namun setelah tsunami hanya tersisa 30 unit saja, dan 10 unit diantaranya adalah bantuan dari Lembaga Swadaya Mastarakat Internasional.

Dari 30 unit motor boat di sini 12 unit diantaranya berkekuatan 23-30 HP dan sisanya adalah boat kecil dengan kekuatan mesin 5-15 HP. Ditinjau dari segi kekuatan armada yang ada, sebenarnya nelayan di sini dapat mencangkau daerah penangkapan ZEE, namun karena kekurangan modal kerja menyebabkan mereka hanya mampu mencapai jarak tangkap tidak lebih 6 mil laut dan pada umumnya mereka beroperasi di daerah Selat Malaka.

Selain kegiatan penangkapan ikan, sebagian penduduk juga berprofesi sebagai nelayan petambak, namun demikian hanya beberapa orang saja yang masih aktif menjalankan usaha tambak, sehingga sebagian besar tambak merupakan tambak terlantar.

Salah satu penyebab banyak tambak yang terbengkalai adalah karena kurang gairahnya nelayan melanjutkan usaha ini akibat serangan hama penyakit dan harga jual udang yang tidak stabil.

Menurut nelayan tidak banyak jenis ikan yang tertangkap, beberapa jenis ikan yang sering dan banyak tertangkap diantaranya adalah kakap, kerapu, bawal, udang  dan pari. Jenis-jenis ikan yang tertangkap ini pada umumnya adalah ikan pantai karena areal penangkapan masih sekitar daerah pantai.

Sebagaimana nelayan kecil lainnya, waktu penangkapan ikan di sini masih singkat yaitu berkisar 8-12 jam, ada satu boat yang telah memiliki alat tangkap yang cukup baik dan bermodal lumanyan mampu melaut lebih dari 12 jam (24 jam).  Hal ini disebabkan kerana keterbatasan modal untuk membeli BBM, untuk operasi di sekitar pantai diperlukan biaya BBM  berkisar Rp75.000 – Rp 200.000, sedangkan untuk memcapai daerah penangkapan yang lebih jauh memerlukan BBM sekitar Rp500.000 –Rp1.000.000,- dan ini hanya mampu dilakukan oleh beberapa nelayan bermodal kuat saja.

Sebelum tsunami, nelayan Desa Kuala Tuha sebagian besar memfokuskan penangkapan induk udang dan beberapa diantaranya penangkap ikan secara umum.

Namun demikian, setelah tsunami hasil tangkapan induk menurun drastis, hal ini disebabkan karena banyak areal hutan bakau dan terumbu karang yang rusak akibat tsunami. Selain itu pula harga jual induk udang menurun drastis, sebelum tsunami harga seekor induk dapat mencapai Rp300.000 – Rp500.000/ekor, namun setelah stunami selain tangkapan menurun permintaan induk juga sepi akibat dari pada lesunya usaha di sejumlah daerah.

Selain udang, ikan kerapu dan kakap merupakan ikan yang mempunyai mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, harga jual perkilogram mencapai Rp25.000-Rp40.000. Rerata hasil tangkapan ikan nelayan berkisar 150-300 kg/trip atau senilai.

Pada umumnya nelayan di Kuala Tuha menggunakan jaring insang sebagai alat untuk menangkap ikan, perahu motor yang digunakan berkekuatan 5-23 HP. Namun demikian, setelah tsunami banyak alat tangkap ikan termasuk boat dan jaring hilang dan rusak, sampai saat ini hanya sekitar 10 boat nelayan saja yang telah disalurkan ke nelayan di desa ini, dan sebagian besar dari mereka belum mendapat bantuan.

Nelayan di sini sangat berharap adanya bantuan jaring untuk udang yang disebut jaring nilon, jaring ini sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil tangkapan dan pendapatan mereka.Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan setempat, mereka mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap kondisi mereka, banyak nelayan belum tersentuh dengan bantuan. Sebagian dari nelayan belum melaut akibat belum adanya boat atau alat tangkap lainnya. Namun demikian sudah ada beberapa bantuan yang disampaikan kepada nelayan walaupun masih dalam jumlah yang sangat terbatas. Saat ini banyak nelayan yang sudah terlilit utang dan tidak dapat melunasinya karena tidak ada pendapatan.Menurut informasi dari nelayan setempat, sudah ada usaha restorasi hutan bakau dari bantuan NGO asing, sebagian besar tidak dapat tumbuh karena kurangnya perwatan dan sebagian yang lain terpaksa dicabut karena adanya proyek pembuatan tanggul.Masyarakat setempat berpendapat keberadaan hutan bakau sangat penting bagi kelangsungan usaha perikanan, oleh karena itu mereka sangat mendukung jika ada usaha restorasi hutan bakau di kawasan ini, dan mereka berharap dalam kegiatan ini dapat melibatkan masyarakat setempat dengan harapan akan dapat mendatangkan pendapatan selama masa-masa krisis ini.

Tidak banyak jenis ikan yang dapat ditangkap dan didaratkan di kawasan ini, hal ini disebabkan karena keterbatasan alat tangkap dan kekurangan modal kerja. Jika ditinjau dari segi kekuatan kapal, sebenarnya nelayan di sini mampu menjangkau kawasan yang lebi jauh (lepas pantai) karena terdapat lebih dari 15 kapal dengan kekuatan mesin lebih dari 23 HP, namun karena kekurangan modal menyebabkan nelayan tidak mampu membeli BBM, es dan dukungan logistik lainnya selama aktifitas penangkapan.

Gambar 14 : Para Nelayan sedang berlabuh di TPI

E. Hasil wawancara dan Pembahasan di TPI Kuala Tadu

Untuk tujuan survey bidang perikanan di Kecamatan Tadu Raya ditetapkan dua lokasi survey TPI yaitu TPI lama dan TPI yang baru yang terletak sama – sama di desa tersebut, selain sebagai pusat aktifitas perikanan tangkap, juga terdapat, sebagian kecil diantaranya juga difungsikan sebagai ladang garam. Kedua TPI ini merupakan TPI yang terkena tsunami.

Menurut nelayan setempat, kawasan ini termasuk yang agak parah terkena tsunami karena berada di daerah muara. Hampir sebagian besar rumah penduduk di desa Kuala Tadu rusak total dan lebih kurang 30% orang penduduk meninggal. Menurut pawang laot (ketua adat masyarakat nelayan) setempat sebagian besar nelayan di sini adalah nelayan kecil dan hanya menangkap ikan disekitar pantai (2-6 mil), atau leih kurang 8-12 jam. Hampir semua nelayan yang diwawancarai mengaku mengalami kesulitan dalam permodalan, mereka mengalami kesulitan dalam mendapatkan minyak solar.

Jika ditinjau kehidupan petani garam, kondisi mereka saat ini lebih menyedihkan dibandingkan dengan nelayan penangkap ikan, selain mengalami kesulitan akibat dampak tsunami juga mengalami kesulitan dalam pemasaran garam dengan harga yang memadai, harga garam agak sedikit baik pada musim penghujan karena sedikit garan yang dapat diproduksi, sementara permintaan tetap.

Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan setempat jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi adalah ikan kerapu (Epinephelus spp) dan ikan kakap (Lates carcarifer). Harga jual ikan kerapu mencapai Rp 45.000,-/kg dan ikan bandeng Rp15.000 – Rp25.000/kg. Harga jual ikan juga sangat dipengaruhi oleh musim, pada musim barat dimana banyak nelayan yang tidak dapat melaut (karena kekuatan kapal dan alat tangkap tidak dapat melawan kondisi laut) harga ikan dapat meningkat dua kali lipat. Pada kondisi begini biasanya nelayan petambak akan memanen ikan mereka untuk dijual dengan harga yang cukup baik.

Gambar 15 : hasil tangkapan nelayan di TPI kuala Tadu

Sebagian besar nelayan di sini adalah nelayan tradisional dengan alat tangkap sederhana yaitu boat thep-thep dengan kekuatan tidak lebih 23 HP. Menurut nelayan setempat harga satu unit boat berkisar antara 3-7 juta dan mesin dengan harga 3-5 juta dan perlengkapan lainnya (jaring, pukat, pancing) mencapai 1,5- 5 juta. Untuk satu unit boat thep-thep lengkap siap operasi diperlukan biaya berkisar 8-12 juta (tergantung besar kecil dan kekuatan mesin).Sedangkan pendapatan petani garam juga sangat bervariasi, dalam sekali masak rerata mereka dapat menjual garam Rp75.000, dari jumlah tersebut mereka dapat untung bersih setelah dipotong biaya produksi lebih kurang Rp15.000 – Rp 25.000, sehingga pendapatan bersih berkisar Rp50.000-65.000.Jika ditinjau dari segi pembagian tugas, sebagian lelaki adalah menangkap ikan di laut, sedangkan kaum ibu biasanya menjadi nelayan pengolah ikan (ikan asin dan ikan teri). Sedangkan bagi petani garam biasanya juga terjadi pembagian tugas, dimana pada saat persiapan (menyediakan air, kayu bakar dll) dilakukan oleh kaum bapak, sedangkan kaum ibu lebih berperan dalam menjaga kuali saat memasak dan menambah kayu bakar sampai air laut menjadi garam. Garam yang diperoleh dalam sekali masak (satu kuali) lebih kurang 3 kuintal, biasanya garam dijual kepada petani pengumpul (mugee) dengan harga perkuintal sekitar Rp25.000.Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa sebagian besar dari anak nelayan hanya tamatan SMP bahkan ada diantara mereka tidak tamat SD, salah satu alasan klasik adalah ketiadaan biaya.Salah satu kebiasaan nelayan di hampir semua lokasi bahwa pada hari Jumat merupakan hari pantangan untuk melaut, karena pada hari ini dianggap kramat dan digunakan untuk beribadah, walaupun pada kenyataannya banyak diantara mereka yang hanya duduk menganggur di warung kopi.Jika ditinjau lebih jauh dari segi ekonomi, terlihat bahwa kondisi keuangan nelayan di sini sangat menyedihkan, hal ini dapat dipahami karena pada saat ini termasuk musim ombak besar dan bagi nelayan dengan kekuatan kapal kecil tidak dapat melaut, sehingga banyak diantara mereka yang berutang di kedai-kedai atau pada sesama nelayan. Dan disini belum ada toke yang menyediakan modal untuk melaut, semua kebutuhan nelayan dipenuhi sendiri dan diantaranya mengutang pada kios BBM dan warung. Jika hasil tangkapan memuaskan mereka akan dapat melunasi hutang-hutang, jika tidak hutang akan bertambah sampai melilit pinggang.

Jika ditinjau dari segi harga jual ikan, tergolong masih cukup baik, namun kenyataannya mereka sering tidak dibayar tunai oleh nelayan pengumpul. Harga jual ikan akan turun drastis pada musim-musim hasil tangkapan meningkat, namun karena keterbatasan alat pengolahan ikan atau penyimpanan ikan, dengan terpaksa nelayan menjual dengan harga murah

Hasil survey juga menunjukkan bahwa, pada beberapa lokasi pendaratan ikan yang ada, belum satupun yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai misalnya, stasiun BBM, kios penjual es balok atau cold storage. Sebagian besar tempat pendratan ikan adalah pelabuhan darurat di muara-muara sungai besar yang minim fasilitas baik Fasilitas untuk melaut dan Sanitasi lingkungan

Gambar 16

Gambar 17 : Mahasiswa/I ketika sedang berdialog dengan salah seorang nelaya sekaligus penangung jawab TPI tersebut

Gambar 18 : Minim Sarana & prasarana di TPI tersebut

Gambar 19 – 20 : memperlihatkan kondisi yang tidak layak untuk sebuah TPI, yang masih memerlukan perbaikan

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kondisi perikanan di Aceh Utara sangat memprihatinkan, kondisi ini sebanrnya bukan hanya disebabkan oleh adanya tsunami akan tetapi kondisi ini sudah merupakan masalah lama dan tambah diperburuk oleh adanya musibah tsunami.

Masalah umum dan klasikal yang dihadapi oleh neyalan adalah minimnya alat dan sarana. penangkapan ikan, kurangnya modal kerja untuk melaut dan rendahnya skill dari nelayan.  Sedangkan masalah yang ditimbulkan oleh akibat tsunami adalah turunnya hasil tangkapan nelayan akibat rusaknya terumbu karang dan mangrove, hilang dan rusaknya alat dan sarana penangkapan ikan. Selain itu juga masalah perumahan dan air bersih adalah masalah lain yang umum dihadapi oleh nelayan.

B. Rekomendasi

1. Perlu dilakukan bantuan boat dan alat tangkap ikan di 5 kecamatan yang disurvey, dan untuk menekan dampak negatifnya perlu dilakukan pendataan calon penerima secara cermat dengan melibatkan segenap komponen nelayan.

2. Perlu dibantuk suatu wadah pekumpulan nelayan, misalnya koperasi nelayan, sebagai wadah untuk mengumpulkan modal kerja dan kerjasama dengan pihak luar.

3. Perlunya Amdal dalam sebuah TPI untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di masa yang akan dating

4. Secara umum pada semua kecamatan perlu dilakukan rehabilitasi hutan pantai dengan tanaman bakau, sarana dan prasarana kebersihan lainya dalam rangka pemulihan dan diversifikasi mata pencaharian dan mempertingi juga menilai tentang kelayakan sebuah TPI

5. Khusus di Desa Kuala Tadu perlu dilakukan pembangunan sarana kebersihan dan sarana penunjang kesehatan lainya guna dalam upaya mempertingi derajat kesehatan dan juga pengaman pantai berupa tumpukan bantuan atau tembok, karena kawasan ini abrasi pantai sudah sangat kritis.

Ucapan Terimakasih

Penelitian ini didukung oleh Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Semester VI ( enam ), oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih atas dukungan Moral yang telah di berikan. Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada Bapak Kiswanto Msi yang telah membantu dalam pengumpulan data selama di lapangan.

kunjungi kami di www.milyfkm.blogger.co.id

Satu Tanggapan to “PENELITIAN AMDAL FKM”

  1. I really enjoyed reading this post, keep on creating such exciting posts.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: