MAKALAH KESUDAHAN ABAB PERTENGAHAN

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas terselesainya makalah ini, selawat dan salam tak lupa kami sanjungkan kepada Nabi.Muhammad Swa.

Makalah ini kami susun dengan tujuan agar memudahkan kita dalam proses belajar mengajar, guna menambah wawasan bagi rerkan-rekan sehingga kita semua mampu untuk berfikir agar menjadi lebih maju.

Terima kasih kepada Bapak Zulkarnaini selaku dosen pembimbing kami, terima kasih pula kepada rekan-rekan yang telah berpartisipasi sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan makalah ini, masih jauh dari ke sempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang dapat membangun tetap kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Penulis

=                                 =

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. Hidup Sebagai Tugas

Eksistensi manusia dapat dikatakan kesatuan dalam diversitas serta diversitas dalam kesatuan. Filsuf Nietszche dan M. Heidegger berkata bahwa manusia harus memanusiakan dirinya, manusia masih harus menyesuaikan diri. Eksistensi manusia mengandung resiko tenggelam. Manusia senantiasa menghadapi bahaya ketenggelaman.

  1. 2. Perbedaan manusia dari mahluk infrahuman

Secara fundamental, manusia mempunyai banyak kebutuhan dan juga dorongan. Di tuntut oleh berbagai kodratnya membuat manusia berbeda dari semua mahluk di dunia ini adalah inteleknya atau akal budinya. Para ilmuwan yang berpendapat bahwa alam semesta ini terjadi secara kebetulan terpaksa harus merombak pemikiran mereka setelah menemukan aktivitas serebral (aktivitas intelektual) dalam penelitian mereka. Petunjuk adanya rasionalitas membantah dengan seketika tentang hipotesis kesimpulan bahwa alam semesta terjadi dengan kebetulan. Manusia memang mempunyai aspek hewani, tetapi manusia adalah insane paling utama berkat inteleknya, rohaninya.

3.      Peranan Berfikir

Intelek merupakan hal yang sangat penting. Hanya dengan pengertian manusia itu menjadi manusia. Hanya dengan pengertian manusia dapat menghayati keinsannya mengerti adalah sesuatu yang langsung menyentuh nilai harkat, martabat dan hakikat manusia. Kepentingan pengertian di katakana manusia adalah realitas rohani jasmani dalam satu kesatuan substansial, tetapi rohanilah yang merupakan dasar dan intinya, seta sumber segala kegiatan dan prinsip hidup. Berpikir lebih dalam berarti mengalami diri sendiri secara transeden, dunia material, sebagai rohani, sebagai kemungkinan luar biasa dan bukan benda.

4.    Rasional Maka Proposional

Manusia mampu mempunyai pengertian rasional, maka juga dapat mencintai secara personal. Manusia dapat menghargai kebaikan realitas dan mau menyerahkan diri kepada beberapa realitas sepantasnya dicintai sebagai tujuan misalnya Tuhan, manusia.

5.    Dari sensitivo-rasional hingga metarasional

Manusia dapat mengerti semua realitas karena manusia sadar dan dapat mengerti. Pengertian manusia, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dapat bertambah dan meningkat melalui proses refleksi ( perenungan ) yang sistematis. Manusia sebagai pribadi perlu senantiasa mencari kebenaran, tetapi pada batas tertentu, manusia tidak mampu mencapai kebenaran sendirian. Manusia membutuhkan pertolongan yakni membutuhkan revelasi ( wahyu ) ilahi. Kepercayaan adalah pengertian yang metarasional atau suprarasional. Dengan iman atau kepercayaan ini, manusia memperluas pengetahuannya melalui pengetahuan lain.

6.     Pengertian sebagai pembebasan, pemerdekaan.

Pikiran manusia tidak hanya bergerak secara horisontal, tetapi juga vertical, yakni dari pengalaman sensitivo-rasional yang biasa hingga pengalaman metafisik, dari pengertian natural ke supranatural. Pengertian yang langsung secara sadar signate, sangatlah terbatas. Secara exercite pada hakikatnya, pengertian langsung tadi sangat kaya, padat dengan informasi. Lepas dari ketidaktahuan dan kebodohan adalah sesuatu yang membahagiakan. Kebenaran yang sempurna akan membebaskan manusia dari segala penderitaannya, dan membuatnya bahagia selamanya. Inilah akhir tertinggi dari manusia.

7.      Hukum Pemikiran adalah hokum Alami

Secara alami pemikiran ( penalaran ) manusia bergerak pengetahuan pra-predikatif menuju pengetahuan predikatif. Berpikir yang baik, yakni berpikir logis dialektis, bukan hanya mengindahkan kebenaran bentuk atau hukum-hukum, tetapi juga harus mengindahkan kebenaran materi pemikiran beserta kriterianya. Hukum-hukum tersebut diselidiki dan dirumuskan oleh logika. Sedangkan masalah kebenaran materi dan kriterianya dicari pada masing-masing bidangnya serta pada masing-masing epistemology. Orang yang mengeksplisitkan teori logika, yakni menyusun logika menurut pola yang dapat dipertanggungjawabkan adalah Aristoteles. Dialah bapak ilmu logika, logika episteme, yang di sebut logike techne, seni berlogika.

8.Logika adalah Filsafat sebagai analis

Sudah menjadi kebiasaan logika scientifika dianggap atau ( paling sedikit ) di rasakan ( karena diperlakukan ) sebagai filsafat atau bagian filsafat. Filsafat adalah ilmu tentang prinsip, ilmu yang mempelajari dengan mempertanyakan secara radikal segala realitas melalui sebab-sebab terakhir, melalui asas-asasnya guna memperoleh pandangan ( Insight ) yang tepat mengenai realitas. Secara umum filsafat mengandung / mencakup problema neotika yang mencakup program logika dan problema epistemology (kritika, logika mayor, kriteriologi, juga methodology) serta mengandung problema ontologis dan otika. Jadi logika scientifika adalah filsafat, karena biasa disebut logika filsafati. Karena logika scientifika menguraikan pikiran hingga tuntas, sampai habis-habisan, maka logika merupakan filsafat sebagai analisis. Logika adalah analisis kritis, filosofis pikiran dan pemikiran manusia.

9. Peranan Logika Bagi Ilmu

Secara histories, menurut sejarahnya, yang pertama menjadi perhatian dan di garap para filsuf adalah problema tentang ada, disempitkan lagi: problema ontika. Kemudian di sadari bahwasannya akan lebih sistematis apabila ditempuh prosedur yang sebaliknya. Sebab, barang siapa bermaksud menggarap tertib riel secara intelektual pasti harus menggunakan tertib idiel, yakni harus menggunakan proses tahu dan pengetahuan. Logika scientifika adalah kondisi dan tuntutan fundamental eksistensi ilmu. Tidak ada ilmu yang tidak menggunakan atau tidak harus menempuh proses pemikiran, proses menalar, proses logika. Logika bahkan de facto merupakan pintu gerbang dari segala ilmu.

BAB II

SEJARAH RINGKAS LOGIKA

  1. a. Pengantar

Melalui perjalanan sejarah juga akan dapat di identifikasikan ketentuan-ketentuan metafisik mana yang akan de facto mendasari dan mengarahkan pertumbuhan logika. Di bawah ini akan disuguhkan suatu ringkasan singkat sejarah logika, dari masa pertumbuhannya hingga kurun waktu perkembangannya.

b.   Dunia Yunani Tua

Akar logika sudah terdapat dalam pikiran dialektis para filsuf mazhab Elea. Socrates (470-399) dengan metode Socratesnya, yakni ironi dan maieutika, de facto mengembangkan metode induktif. Logika episteme (logika ilmiah) baru dapat dikatakan terwujud berkat karya Aristoteles (384-322).

  1. c. Dunia Abad Pertengahan

Thomas Aquinas dkk. Mengusahakan sistematisasi dan mengajukan komentar-komentar dalam usaha mengembangkan logika yang telah ada. Pada abad XIII-XV berkembanglah logika modern. Petrus Hispanus, Roger Bacon, W. Ockham, dan Raymond Lullus yang menemukan metode logika baru yang disebutnya ars magna, yakni semacam aljabar pengertian dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi. Abad pertengahan mencatat berbagai pemikiran yang sangat penting bagi perkembangan logika..

d.    Dunia Modern

Metode induktif untuk menemukan kebenaran yang direncanakan Francis Bacon, didasarkan pada pengamatan empiris, analisis data yang diamati, penyimpulan yang terwujud dalam hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut. Penghalang bagi metode ini adalah prakonsepsi dan prasangka yang dikelompokkan Francis Bacon ke dalam empat klarifikasi.

  1. The Idols Of Tribe (Idola Tribus). Sumber kesesatan ini pada hakikatnya berdasarkan pada kodrat manusia sendiri, pada ras manusia, misalnya bahwa manusia hanya mempunyai lima indera dan tidak lebih.
  2. The Idols of the Cave (idola Specus) atau prasangka pribadi. Jiwa manusia merupakan sesuatu yang berubah-ubah, penuh gangguan, dan seakan-akan diperintah oleh kemungkinan yang tidak pasti.
  3. The Idols of the Market Place (Idola Fori) disebabkan seseorang tidak membuat pembatasan pada term-term yang dipakai untuk berpikir dan berkomunikasi.
  4. The Idols of the Theatre (Idola Theatri), yakni sikap menerima secara membuta terhadap tradisi otoritas.

Penggunaan metode induktif Francis Bacon mengharuskan pencabutan hal yang hakiki dari hal yang tidak hakiki dan penemuan struktur atau bentuk yang mendasari fenomena yang sedang diteliti. Caranya dengan:

  1. Membandingkan contoh-contoh hal yang diteliti,
  2. Menelaah variasi-variasi yang menyertainya, dan
  3. Menyingkirkan contoh-contoh yang negatif.

H.W.B. Joseph (1867-1943) dalam karyanya Introduction to Logic (1906) mengembangkan masalah esensialia dari subjek. Sedangkan Peter Coffey dalam karyanya Science of logic (1918) menggarap prosedur deduktif dan induktif dan kaitannya dengan metode ilmiah.

BAB III

SEJARAH RINGKAS TENTANG LOGIKA

Melalui perjalanan sejarah juga akan dapat di identifikasikan ketentuan-ketentuan metafisik mana yang akan de facto mendasari dan mengarahkan pertumbuhan logika. Di bawah ini akan disuguhkan suatu ringkasan singkat sejarah logika, dari masa pertumbuhannya hingga kurun waktu perkembangannya.

a.   Dunia Yunani Tua

Akar logika sudah terdapat dalam pikiran dialektis para filsuf mazhab Elea. Socrates (470-399) dengan metode Socratesnya, yakni ironi dan maieutika, de facto mengembangkan metode induktif. Logika episteme (logika ilmiah) baru dapat dikatakan terwujud berkat karya Aristoteles (384-322).

  1. b. Dunia Abad Pertengahan

Thomas Aquinas dkk. Mengusahakan sistematisasi dan mengajukan komentar-komentar dalam usaha mengembangkan logika yang telah ada. Pada abad XIII-XV berkembanglah logika modern. Petrus Hispanus, Roger Bacon, W. Ockham, dan Raymond Lullus yang menemukan metode logika baru yang disebutnya ars magna, yakni semacam aljabar pengertian dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi. Abad pertengahan mencatat berbagai pemikiran yang sangat penting bagi perkembangan logika.

.

  1. c. Dunia Modern

Metode induktif untuk menemukan kebenaran yang direncanakan Francis Bacon, didasarkan pada pengamatan empiris, analisis data yang diamati, penyimpulan yang terwujud dalam hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut. Penghalang bagi metode ini adalah prakonsepsi dan prasangka yang dikelompokkan Francis Bacon ke dalam empat klarifikasi.

    1. The Idols Of Tribe (Idola Tribus). Sumber kesesatan ini pada hakikatnya berdasarkan pada kodrat manusia sendiri, pada ras manusia, misalnya bahwa manusia hanya mempunyai lima indera dan tidak lebih.
    2. The Idols of the Cave (idola Specus) atau prasangka pribadi. Jiwa manusia merupakan sesuatu yang berubah-ubah, penuh gangguan, dan seakan-akan diperintah oleh kemungkinan yang tidak pasti.
    3. The Idols of the Market Place (Idola Fori) disebabkan seseorang tidak membuat pembatasan pada term-term yang dipakai untuk berpikir dan berkomunikasi.
    4. The Idols of the Theatre (Idola Theatri), yakni sikap menerima secara membuta terhadap tradisi otoritas.

d.   Dunia Sezaman

H.W.B. Joseph (1867-1943) dalam karyanya Introduction to Logic (1906) mengembangkan masalah esensialia dari subjek. Sedangkan Peter Coffey dalam karyanya Science of logic (1918) menggarap prosedur deduktif dan induktif dan kaitannya dengan metode ilmiah.

BAB IV

IDE ATAU KONSEP

1. ide dan fantasma

Ide adalah sebuah kata yang berasal dari kata Yunani eidos yang artinya yang orang lihat, pernampakan, bentuk, gambar, rupa yang dilihat. Sedangkan konsep berasal dari kata latin: concipere, yang artinya mencakup, mengandung, mengambil, menyedot, menangkap. Ide secara subjektif berarti: suatu aksi intelek yang digunakan untuk menangkap sesuatu. Sedangkan secara objektif artinya sesuatu yang kita tangkap dengan aksi tadi. Aksi menangkap ini dalam istilah logika di sebut aprehensi sederhana. Aprehensi sederhana adalah proses yang digunakan untuk mencapai konsep sedangkan ide adalah hasil dari proses tersebut. Perlu dibuat perbedaan antara ide dan fantasma yang merupakan produk dari fantasi, yang merupakan gambaran, produk langsung dari indera manusia.

2. Term

Menurut logika terdapat perbedaan antara term dan kata. Term dalam kenyataannya dapat mencakup beberapa atau sejumlah kata-kata meskipun mewujudkan suatu tangkapan logis. Suatu term sebagai suatu kegiatan tahu, di dalam fenomenologi modern selalu menyandang cirri intensional.

  1. 3. Kompherensi dan Eksetensi

Komprehensi adalah keseluruhan arti yang tercakup dalam suatu konsep atau term. Yang dimaksudkan dengan keseluruhan arti adalah suatu unit arti-arti yang kompleks yang terdapat pada suatu konsep. Ekstensi adalah keseluruhan hal-hal yang atasnya suatu ide dapat diterapkan, atau lingkungan yang dapat ditunjuk dengan konsep tersebut. Prinsip.

  1. 4. Sematika dan Logika

Hubungan semantika dengan logika tidak perlu diragukan dan ditawar lagi karena makna itu memegang peranan penting dalam pemakaian bahasa, sebagai alat pengungkap pikiran. Bidang semantika berkisar pada usaha memperhatikan dan meneliti proses transposisi makna kata dalam pemakaian bahasa. Pengetahuan akan hubungan antara kata-kata Indonesia dengan pengertian yang ditunjuk atas dasar perjanjian masyarakat bahasa Indonesia merupakan hak yang mutlak penting dalam pelajaran logika dan kegiatan berpikir.

  1. 5. Nila dan Rasa

­

Hal ini merupakan bagian dari masalah semantika. Hubungan antara kata dan pengertiannya secara obyektif disebut makna dasar. Gejala penambahan rasa pada makna dasar disebut nilai rasa. Nilai rasa sebagai anasir subjektif pemakaian bahasa yang mengambarkan perasaan sebagai gerak hati pemakai bahasa yang menyertai kata yang digunakan dan penilaian, yang sering bersifat sangat subyektif.

BAB V

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Penyimpulan adalah suatu kegiatan yang tertentu, dalam dan dengan kegiatan itu ia bergerak menuju pengetahuan yang baru dari pengetahuan yng dimilkinya dan berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya itu.

Baik antecedens maupun consequens selalu terdiri atas kputusan. Keputusan selalu terdiri dar term-term. Baik keputusan-keputusan-keputusan maupun term-term merupakan materi penyimpulan. Sedangkan hubungan penyimpulan (konsekuensi) merupakan forma penyimpulan itu.

B.     SARAN

Bagi para pembaca dan rekan-rekan yang lainnya, jika ingin menambah wawasan dan ingin mengetahui lebih jauh, maka penulis mengharapkan dengan rendah hati agar lebih membaca buku-buku ilmiah dan buku-buku filsafat lainnya yang berkaitan dengan judul “ Kesudahan Abad Pertengahan ”.

Kritik dan saran yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan Makalah kami.

Jadikanlah makalah ini sebagai sarana yang dapat mendorong para mahasiswa/i berfikir aktif dan kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

v     H. Hart Michael 2001, Seratus Tokoh paling berpengaruh dalam sejarah.

v     Trj. Mahbub Djunaidi. Jakarta : Dunia Pustaka Jaya.

v     www.ilmu logika Kesudahan Abad Pertengahan.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: